Sabtu, 04 Juni 2011
Soeratin Pasti Menangis
Mungkin pertanyaan diatas ada dalam kepala para pecinta sepakbola dan mungkin masih banyak pertanyaan lainnya. Setelah lengsernya rezim Nurdin Halid yang berkuasa di PSSI selama dua periode ternyata kisruh di PSSI belum juga usai. Kalau dulu actor utama kekisruhan PSSI adalah Nurdin Halid kini actor utamanya Kelompok 78 dan Komite Normalisasi bentukan FIFA yang diketuai Agum Gumelar. Setelah kisruh PSSI episode Nurdin yang digulingkan oleh kelompok 78, FIFA membentuk Komite Normalisasi yang diberi mandate untuk menyelenggarakan Kongres PSSI dan memilih Ketua baru sesual dengan Statuta FIFA. Selain membentuk Komite Normalisasi FIFA pun melarang 4 calon terdahulu yakni, Nurdin Halid, Nirwan Darmawan Bakrie, George Toisutta, dan Arifin Panigoro untuk mencalonkan kembali menjadi Ketua Umum PSSI. FIFA mengambil keputusan ini karena melihat Kongres di Pekanbaru berakhir ricuh.
Keputusan ini kontan membuat Kelompok 78 yang mengusung George Toisutta dan Arifin Panigoro seperti kebakaran jenggot. Mereka begitu ngotot untuk mencalonkan kedua figure ini padahal FIFA sudah sangat jelas melarang mereka. Kelompok 78 menekan Agum Gumelar selaku Ketua Normalisasi untuk melobi FIFA supaya kedua figure ini bisa dicalonkan sebagai Ketua Umum PSSI. Agum Gumelar pun mengakomodir keingnina Kelompok 78 dengan menemui Presiden FIFA Seep Blater di Zurich Swiss pada tanggal 19 April.
Hasil dari pertemuan itu tetap melarang George Toisutta dan Arifin Panigoro. Jika PSSI melanggar aturan FIFA maka FIFA akan menjatuhkan sanksi bagi Indonesia. Indonesia akan dibekukan dari kancah sepakbola Internasional yang berada di bawah naungan FIFA. Ancaman yang sangat menyeramkan bagi pecinta sepakbola Indonesia karena Indonesia tidak bisa mengikuti Sea Games, Asian Games, Pra Piala Dunia, Pra Olimpiade, Liga Champion Asia, dan Piala AFC. Ancaman FIFA ini tidak membuat Kelompok 78 menciut. Mereka semakin menjadi-jadi dengan melaporkan FIFA ke Badan Arbitase Olahraga Internasional (CAS). Pengaduan mereka ditolak oleh CAS karena FIFA adalah badan tertinggi sepakbola dunia.
Kongres untuk pemilihan Ketua Umum PSSI periode 2011-2015 akhirnya bisa terselenggara sesuai jadwal yaitu tgl 20 Mei tapi sayang Kongres berakhir deadlock karena ulah Kelompok 78 yang terus mempertanyakan dilarangnya George Toisutta dan Arifin Panigoro. Setelah sesi kedua kongres dimulai hujan interupsi pun mewarnai jalannya kongres. Agenda sidang yang seharusnya memilih Ketua baru malah dibelokkan oleh kelompok 78 yang ingin meminta penjelasan dari perwakilan FIFA. Thierry Regenass akhirnya buka suara "Sebelumnya saya ingin menyatakan bahwa Sepp Blatter telah memberitahu saya bahwa dirinya ingin mendengar kabar baik darinya saat bertemu di Swiss. Sebenarnya saya adalah seorang pengamat yang tidak akan berbicara sama sekali, tetapi karena saya diminta maka saya akan menjelaskan sejelas-jelasnya," ujar Regenass. “FIFA telah melarang empat orang bukan hanya dua orang, dan salah satu esensi yang wajib dipegang oleh anggota FIFA adalah tidak boleh ada kegiatan yang berada di luar kontrol FIFA." Anda bisa memilih untuk keluar dari FIFA dan AFC, atau anda juga bisa memilih untuk berjalan sesuai dengan regulasi FIFA dan Indonesia bisa berkancah di Internasional, dan juga dapat mensejahterakan sepakbola anda. Saya sadar bahwa ada banyak yang kecewa karena kandidatnya tidak dapat dicalonkan. Tetapi jangan khawatir karena itu bukan akhir segalanya, karena larangan tersebut hanya berlaku untuk kongres tahun ini, empat tahun lagi mereka dapat dicalonkan."
Pernyataan perwakilan FIFA ini tidak membuat Kelompok 78 menjadi tenang. Bahkan selain menekan Agum Gumelar, Kelompok 78 pun sempat bersitegang dengan kelompok lainnya yang mengusung calon lainnya. Agum Gumelar pun akhirnya mengambil langkah tegas dengan menghentikan jalannya Kongres. Agum Gumelar sudah tidak bisa mengendalikan jalannya sidang yang sudah tidak kondusif. Dengan berakhirnya Kongres tanpa Ketua baru, hukuman FIFA sudah sangat dekat dan masyarakat pecinta sepakbola akan sanagat sedih.
Dan Soeratin pun pasti menangis di alam sana. Para elit PSSI mungkin tidak sadar dengan perjuangan Soeratin yang menjadikan PSSI sebagai alat persatuan dan perjuangan rakyat. Tolonglah berhenti memperjuangkan kepentingan kelompok. Kepentingan rakyat diatas segalanya. Sepak bola adalah jalan hidup bukan alat politik untuk mencapai tujuan kalian. Our Football is not your fucking political machine. (AMTP)
Minggu, 27 Maret 2011
Persib Tertahan
Persib Bandung harus menelan pil pahit malam ini keunggulan dua gol di babak pertama tidak bisa dipertahankan. Persipura yang menjadi lawannya berhasil menyamakan kedudukan melalui gol Zah Rahan dan Titus Bonai. Sebelumnya di babak pertama Persib berhasil unggul 2 gol melalui sundulan kepala Airlangga dan Herman Abanda. Di babak pertama Persib memegang kendali permainan dengan terus bermain menyerang. Bahkan di detik ke 46 Atep sudah mengancam dengan tendangan kerasnya sayang masih tipis disamping gawang Persipura. Lini tengah yang diisi duet Hariono dan Radovic mampu mendikte lini tengah Persipura.
Di babak kedua Persib melakukan kesalahan besar. Persib menurunkan tempo dan itu membuat Persipura mampu mengendalikan permainan. Praktis babak kedua dikuasai oleh Persipura. Banyak peluang-peluang berbahaya yang diciptakan para pemain Persipura dan saya yakin itu membuat jantung bobotoh berdegup kencang. Lewat skema serangan yang baik, mampu menembus jantung pertahanan Persib. Zah Rahan yang memiliki peluang langsung menghukum Persib dengan gol kedudukan pun berubah menjadi 2-1. Daniel Rukito langsung bereaksi dengan memasukkan Gonzalez dan menarik Airlangga untuk menambah daya gedor, tapi sayang Persib sudah terlanjur didikte oleh Persipura. Persib kesulitan mengembangkan permainan. Akibatnya pun fatal, di menit 89 Titus Bonai berhasil membobol gawang Persib dan merubah kedudukan menjadi 2-2. Sampai peluit panjang dibunyikan kedudukan tidak berubah.
Hasil ini membuat Persib belum bisa menang atas Persipura sejak 2004. Dua gol yang bersarang di gawang Persib menunjukan lini belakang masih menjadi titik lemah Persib di musim ini. Kehadiran Abanda memang menambah warna baru di lini belakang Persib tapi sayang masih belum bisa mendongkrak performa lini belakang secara keseluruhan. Danil dan Robby Darwis yang notabene mantan bek tangguh harus bekerja keras untuk memperbaiki kinerja lini belakang. Masih banyak sisa pertandingan untuk mendongkrak posisi di klasemen dan menjaga harga diri Persib sebagai tim besar di Indonesia.
Minggu, 13 Maret 2011
Away Day Karawang
AWAY DAY KARAWANG
Seperti biasa penyakit saya kambuh saat disuruh harus menulis, bingung harus memulai dari mana. Baiklah kita mulai saja dari kebingungan saya. Selain bingung harus memulai darimana, saya pun bingung harus memberi judul apa pada tulisan ini. Melihat permainan Persib yang terus berkembang, aksi bintang baru Matsunaga Shoei yang mempesona, atmosfir stadion yang sampai membludak kepinggir lapangan. Aslinya saya bingung, tapi yang pasti saat menulis tulisan ini lengan kiri saya masih terasa sakit akibat 5 pukulan pentungan Polisi.
Kejadian pemukulan ini merupakan yang pertama dalam hidup saya, dan saya pun tidak menyangka akan terjadi hal seperti itu. Sejak berangkat dari Jakarta bersama pecinta Persib lainnya jam 3 sore saya tidak punya firasat buruk tentang polisi. Kejadian pemukulan ini terjadi saat saya dan ribuan suporter lainnya akan memasuki stadion. Saat itu waktu sudah menunjukan hampir jam 6 tapi pintu masuk yang kecil itu tidak kunjung di buka ini menyebabkan banyak bobotoh yang marah dan mencoba mendobrak pintu tersebut. Keadaan saat itu sudah tak terkendalai saling dorong pun terjadi yang kasian sih anak-anak dan perempuan, banyak diantara mereka yang kesusahan bernafas dan akhirnya pingsan. Setelah berjuang sekuat tenaga akhirnya saya pun bisa masuk, nah disinilah kejadian itu terjadi. Polisi tersebut meminta tiket dan tiketpun saya kasih dengan senang hati tapi tiket yang harusnya di sobek ternyata hanya dikepal saja dan tidak disobek. Hal ini membuat saya marahkarena saya yakin tiket itu akan dijual lagi dengan spontan saya mengucapkan kata-kata yang saya akui itu tidak sopan, setelah saya naik tangga tiba-tiba polisi itu memukul saya dari belakang dengan pentungannya yang panjang, saya pun sempat melawan dengan menarik pentungan itu tapi pukulannya semakin membabi buta padahal temannya sudah coba menenangkannya. Saya pun disuruh naik cepat oleh bobotoh lainnya untuk menghindari pukulan yang lebih gila.
Sesampainya di tribun, gila penuh banget mau nyari tempat duduk aja susah. Dari belakang nyuruh kita duduk, tapi mau duduk gimana, keadaannya aja padet banget akhirnya jongkok enggak berdiri pun enggak. Tidak nyaman dengan kondisi seperti itu saya maksa untuk naik ke deretan tribun paling atas, dan akhirnya Kang Agus Cakung pentolan Viking Jabotabek memanggil dan memberikan sedikit tempat duduk walaupun pandangan ke lapangan terhalang oleh tembok tapi tak apalah. Kami pun berbincang-bincang membicarakan panpel pelita yang kurang profesional dalam menyelenggarakan pertandingan.
Sepuluh menit berselang akhirnya sang pujaan hati Persib turun ke lapangan pertandingan. Persib disambut dengan gegap gempita, bunyi mercon dan kembang api nampak meluncur dari tribun yang saya tempati tapi sayang ada satu mercon yang malah meluncur ke tengah lapangan dan percikannya mengenai salah seorang pemain Persib untung tidak sampai cedera. Tapi saya yakin itu murni ketidaksengajaan, dan itu jangan diperpanjang semua Bobotoh pasti mencintai Persib dan tidak mungkin akan melukai Persib.
Kick of pun dimulai saat jam di handphone menunjukan pukul 19.02. Daniel Rukito menurunkan Matsunaga Shoei dan Cristhian Gonzalez di lini depan. Persib mengawali pertandingan dengan penuh semangat. Sepuluh menit awal praktis dikuasai oleh Persib, umpan-umpan pendek yang dikombinasikan dengan umpan satu dua benar-benar menghibur kami yang terus menerus memberikan dukungan di tribun. Entah di menit ke berapa serangan balik cepat Persib menghukum Pelita dengan gol cantik dari Matsunaga. Kreator gol itu adalah gelandang petarung Hariono yang mendapat bola liar, dia langsung mengirimkan bola ke Matsunaga yang terlepas dari jebakan offside, dan dengan mudah Matsunaga mengubah skor menjadi 1-0. Sorak sorai bobotoh pun menggema di stadion milik pemerintah Karawang ini. Sebagian bobotoh di tribun timur yang dekat ke utara menyanyikan nama Matsunaga..Matsunaga...Matsunaga. Pemain yang satu ini memang tampil gila mungkin dia termotivasi dengan dukungan yang diberikan oleh bobotoh. Tapi sepertinya Matsunaga ingin memberikan hadiah ulang tahun untuk Persib yang pada tanggal 14 Maret bertambah umurnya menjadi 78.
Gol pemain asal Jepang ini mengangkat mental bertanding skuad Pangeran Biru. Persib menguasai jalannya pertandingan, tapi ada hal yang aneh pada pertandingan kemaren Gonzalez diganti di pertengahan babak pertama oleh Rahmat Affandi. Mungkin Daniel ingin lini depannya lebih hidup dan terus memberikan tekanan kepada Pelita. Pelita Jaya hanya sesekali melakukan serangan dan itu pun tidak ada yang begitu berbahaya. Kali ini Maman cukup sukses dalam meredam Safee Sali pemain Pelita. Sampai berakhirnya babak pertama Persib masih bisa mempertahankan keunggulannya atas tuan rumah. Tapi sayang di babak pertama pemain pelita bermain keras menjurus kasar, beruntung tidak ada pemain Persib yang sampai cedera.
Suasana panas di lapangan nampaknya menular ke tribun penonton, cacian dan makian dari tribun selatan dan timur menggema dan dikirimkan untuk suporter Pelita yang jumlahnya kurang dari 10% kapsitas Stadion Singaperbangsa. Suporter bayaran seperti suporter Pelita memang pantas dihina. Dari tribun timur nampak seorang bobotoh yang melambai-lambaikan uang kertas sebagai bentuk penghinaan terhadap suporter Pelita.
Siapa bilang Jawa Barat Pelita (A***g)
Jawa Barat milik kita semua
Yang bilang Jawa Barat Pelita (A***g)
Itu orang yang tidak sekolah
Lagu ini tak henti-hentinya dinyanyikan oleh sebagian bobotoh Persib. Atmosfir yang ditunjukan bobotoh sepertinya membuat nyali suporter Pelita menjadi ciut, mereka hanya duduk terdiam di bawah “ketiak” polisi.
Babak kedua pun dimulai, tapi Persib seperti telat panas. Permainan sedikit dikendalikan oleh tuan rumah Pelita. Pelita menjadi lebih getol melancarkan serangan ke lini pertahanan Persib. Serangan yang terus menerus akhirnya menghasilkan tendangan pinalti untuk Pelita setelah Maman yang menjatuhkan diri menyentuh bola di kotak terlarang. Saya tidak tahu siapa penendang pinalti tersebut, karena saat itu saya menutup mata tidak mau melihat gawang Persib terkoyak, tapi akhirnya Markus pun harus memungut bola dari gawangnya. Skor pun berubaha jadi 1-1
Kondisi itu membuat panas dan marah bobotoh Persib ditambah perayaan provokatif dari suporter Pelita. Saat itu bayang-bayang tragedi tahun lalu berkumpul di otak saya. Kalau sampai kalah Karawang bisa rusuh lagi, bukan karena tidak bisa menerima kekalahan tapi karena perlakuan wasit. Banyak keputusan wasit yang menguntungkan tuan rumah, dan tidak ada satupun pemain Pelita yang mendapat kartu merah padahal Matsunaga dan pemain lainnya terus dikasari oleh pemain Pelita.
Danil Rukito langsung bereaksi, dia memasukan Eka Ramdani menggantikan Isnan Ali. Masuknya Eka menambah daya gedor Persib menjadi lebih atraktif. Serangan demi serangan terus dilancarkan, Matsunaga seperti tak kenal lelah, dia terus berlari dan bertarung merebut bola. Lini tengah Persib yang dikomandoi pemain baru begitu disiplin, lini belakang bermain lugas untuk menghalau serangan balik Pelita. Gol yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga dari kepala Herman Abanda pemain yang baru didatangkan pada putaran kedua. Abanda menyundul bola hasil tendangan pojok Eka. Pemain Pelita mencoba menghalaunya tapi sayang bola sudah masuk ke gawang dan skor pun berubah menjadi 2-1 untuk keunggulan Persib. Abanda pun berlari ke arah tribun selatan untuk merayakan golnya dengan bobotoh Persib. Setelah gol itu hati saya dan puluhan ribu orang lainnya menjadi tenang. Keadaan panas di tribun penonton masih berlangsung, di tribun yang ditempati tuan rumah terjadi kericuhan, peonton yang ada di tribun berhamburan turun sepertinya mereka menghindari lemparan batu dari luar stadion. Ini mengingatkan saya tragedi di Tangerang, bedanya saat itu kami melawan walaupun jumlah kami sedikit.
Di lapangan pertangdingan Persib masih memegang kendali permainan setelah unggul praktis Persib hanya mempertahankan hasil. Persib hanya menyisakan Matsunaga di lini depan dan lebih fokus ke lini pertahanan. Para defensore Persib berhasil menjalankan tugasnya dengan baik dalam meredam serangan Pelita. Saat injury time suporter Pelita memeilih pulang terlebih dahulu. “Balik a***g suporter bayaran g****g” teriak seorang bobotoh di sampin saya.
Sampai peluit panjang dibunyikan Persib berhasil mempertahankan keunggulannya. Kemenangan ini disambut dengan kegembiraan dan suka cita. Seorang bobotoh yang kira-kira berusia 30an, nampak mengucapkan syukur kepada Tuhan dan dari sudut matanya saya tahu dia menangis dan pastinya tangis kebahagian. Bagi bapak itu, bagi kami Persib lebih dari sekedar sepak bola.
Sebelum meninggalkan lapangan para pemain memberikan salam dan rasa terima kasih kepada seluruh bobotoh. Seluruh pemain terlebih dahulu menghampiri tribun timur lalu bergeser ke tribun selatan. Persib mengan Bobotohpun senang. Begitulah akhir dari malam Minggu yang indah. Terima Kasih Persib Bandung. Terus judul tulisan ini apa??? Masa sih tanpa judul?? Awayday Karawang karena ini pertandingan away di Karawang, atau Goyang Karawang karena banyak bobotoh yang bergoyang merayakan kemenangan Persib? Guru dan Dosen saya pernah bilang judul itu harus menarik dan sepertinya Awayday Karawang lebih menarik bukan??
Persib till I die
Jumat, 03 September 2010
NURDIN DI "GOYANG" (KEMBALI)
Tanggal 4 Juni lalu KOI mengesahkan AD/ART terbarunya. Pengesahan AD/ART ini sudah disetujui secara aklamasi oleh para anggota yang hadir pada Kongres Istimewa KOI bulan Mei lalu. AD/ART ini pun sudah dikirim ke Komite Olahraga Internasional (IOC). Pengesahan AD/ART ini membuat Ketua Umum PSSI Nurdin Halid kebakaran jenggot. Ya.. Karena dalam AD/ART terbaru ini ada pasal yang menyebut soal larangan seorang mantan narapidana memimpin organisasi olahraga nasional..
Kita semua tahu Nurdin pernah dua kali mendekam di “hotel” Cipinang karena terkait 2 kasus korupsi. Pertama kasus penyelundupan gula impor illegal pada 2004. Satu lagi tahun 2007 kasus korupsi impor beras dan minyak goreng.
Nurdin pun marah dengan pasal dalam AD/ART KOI ini. Pasalnya Nurdin tidak bisa mencalonkan lagi sebagai ketua untuk periode mendatang. Pria kelahiran Bone ini seperti di “goyang “ kembali. Pada tahun 2009 FIFA juga sempat tidak mengakui status Nurdin sebagai Ketua Umum PSSI karena status mantan napinya menyalahi statute FIFA. Tapi akhirnya lewat lobi-lobi yang intensif dari konco-konco Nurdin di jajaran teras PSSI, FIFA pun mengakui Nurdin sebagai Ketua Umum PSSI.
Dalam dialognya dengan salah seorang wartawan media olahraga Nasional, Nurdin tidak mengakui pengesahan AD/ART KOI tersebut. “Pengesahan AD/ART menyalahi aturan organisasi. Seharusnya rancangan draf AD/ART yang telah disusun tim pokja yang diketuai Ketua KOI Rita Subowo dipaparkan ke rapat pleno, tidak serta merta disahkan dan langsung dikirim ke IOC” kata pria asal Makasar ini.
Nurdin pun tidak akan menuruti isi pasal soal mantan napi dalam AD/ART KOI. Alasannya AD/ART tersebut menyalahi UUD 45 pasal 28, UU no 3 tahun 1999 tentang HAM, dan UU no 11 tahun 2005 tentang Ratifikasi, Konvensi Hak Sipil dan Politik.
Dengan nada berapi-api Nurdin berkata “Perlu dicatat jangankan untuk menjadi Ketua Umum PSSI, untuk menjadi
Nurdin pun memberikan sejumlah nama seperti A.M. Fatwa yang pernah dipenjara tapi di kemudian hari menjadi wakil Ketua MPR/DPR. Nelson Mandela yang diperlakukan amat istimewa oleh FIFA saat penyelenggaraan WC 2010 Afsel padahal Mandela pernah dipenjara selama 28 tahun.
Sah-sah saja jika Nurdin protes karena dia punya tameng hukum dalam UU yang disebut di atas. Tapi jika Nurdin memberikan contoh seperti A.M. Fatwa dan Nelson Mandela itu konteksnya sangat berbeda dengan Nurdin saat ini. A.M. Fatwa dijebloskan ke penjara karena pandangan politiknya bersebrangan dengan politik Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto yang berkuasa saat itu. Sedangkan Nelson Mandela terbelenggu dalam penjara selama hampir 28 tahun karena melakukan perlawanan terhadap rezim Apartheid yang membedakan warna kulit di Afrika Selatan. Setelah rezim Orde Baru dan Aparheid runtuh A.M. Fatwa dan Mandela bahkan dianggap sebagai pahlawan. Sedangkan Nurdin dua kali masuk penjara karena kasus korupsi yang selama ini sangat di benci masyarakat
Pembentukan AD/ART KOI didasari oleh etika dan keinginan luhur olahraga sebagai ajang yang menjunjung tinggi kehormatan, kejujuran, persahabatan dan disiplin. Kita lihat saja faktanya di masyarakat, PSSI di bawah pimpinan Nurdin Halid seperti tidak memiliki wibawa. Cemoohan, hinaan dan umpatan setiap harinya terus keluar dari mulut masyarakat
Buka hati nurani Anda Bapak Nurdin Halid yang terhormat. Sampai detik ini Anda tidak bisa memberikan citra positif bagi masyarakat
Untuk memajukan sepak bola nasional tidak menjadi Ketua Umum PSSI pun Anda bisa melakukannya, contohnya Anda bisa mendirikan Akademi Sepak Bola yang bisa mencetak pemain-pemain hebat di masa mendatang.
Minggu, 15 Agustus 2010
Peluang MU
Di era Premier League terkait dengan perebutran gelar The Shield pernah muncul pola yang memperlihatkan bahwa pemenang The Shield cenderung tidak bisa menjuarai Premier League. Fakta ini berubah seiring datangnya taipan minyak asal Rusia Roman Abramovich pada musim 2003/2004. Abramovich menjadikan Chelsea tim bertabur bintang yang sangat disegani. Pada musim 2005/2006 The Blues tercatat bisa mengawinkan gelar The Shield dengan mahkota Premier League. Sejak saat itu muncul pola baru yaitu tim yang menjuarai Community Shield berhasil merebut trofi Premiership. Kecuali pada musim 2006/2007 saat Liverpool juara The Shield tapi trofi Premiership direbut MU.
Community Shield musim ini telah digelar dan MU sebagai Juaranya setelah mengalahkan Chelsea 2-0. Walaupun menjuarai The Shield MU belum pasti bisa meraih gelar Premiership seperti pada musim 2007/2008 & 2008/2009 saat mereka mengawinkan gelar The Shield dengan Premiership. Musim ini dipastikan akan lebih berat dari musim lalu. Calon Juara tidak hanya di kuasai lagi oleh 2 atau 3 klub tapi menjadi 5 klub. Chelsea, MU, Arsenal, Liverpool, dan Man City. MU harus lebih berhati-hati dan penuh konsentrasi menhadapi musim ini.
Chelsea walaupun ditinggal Ballack, Deco, Joe Cole masih menjadi favorit terkuat juara. Chelsea memang kurang “garang” dalam bursa transfer mereka hanya mendatangkan Yossi Benayoun dari Liverpool dan Ramires gelandang muda berbakat asal Brazil. Tapi dengan skuad lama yang rata-rata membela Chelsea lebih dari 3 musim akan menjadikan permainan Chelsea lebih padu karena pemainnya sudah saling mengenal satu sama lain. Arsenal pun akan menghadirkan terror bagi MU, skuad muda Arsene Wenger ini lebih matang dan dewasa dari musim lalu. Perginya Eduardo tidak berpengaruh karena mereka dapat penggantinya dalam diri Maroune Chamakh yang diyakini akan bersinar bersama Arsenal.
Liverpool pun demikian mereka sangat ingin mengakhiri puasa gelar Premiership. Walaupun mereka sempat diterpa krisis kepemilikan tapi pelatih Roy Hodgson berhasil menggaet Joe Cole dari Chelsea dan mempertahankan Gerrard dan Torres yang selalu diisukan akan hengkang dari Anfield. Keadaan ini membuat kamar ganti The Kop menjadi harmonis, ketiga pemain itu akan menjadi kunci bagi Liverpool untuk meraih gelar. Satu lagi yang akan membuat musim ini lebih sulit ditebak siapa juaranya adalah kekuatan uang Man City. Tim sekota MU ini begitu royal dalam membeli pemain. The Citizen tecatat menghabiskan 80 juta pound (Rp 1,1 triliun) untuk membeli David Silva, Boateng, Kolarov, dan Yaya Toure. Pengeluaran City masih bisa bertambah mengingat mereka masih bernegosiasi untuk pembelian Ibra dan Balloteli. Kehadiran para pemain bintang di tubuh Man City menjadikan mereka berpeluang meraih gelar Premier League.
Belum lagi tim-tim seperti Tottenham, Aston Villa, Fulham ataupun Brimingham diyakini akan membuat jalan MU untuk mengawinkan gelar The Shield dan Premiership menjadi lebih berat. Tapi dalam sepakbola semuanya masih bisa terjadi. Kita lihat saja setelah 38 pertandingan digelar. Siapapun juaranya dipastikan tidak akan mudah meraihnya.
Kamis, 12 Agustus 2010
Hanya Ada di Indonesia
Ya itulah judul yang pantas untuk apa yang terjadi di final Piala
Pada saat itu Kapolda Jateng Irjen Polisi Alex Bambang Riatmodjo meminta pergantian wasit. Menurut Alex, wasit Jimmy Natpitupilu asal
Pada saat jeda babak pertama dengan alasan keamanan Kapolda Jateng meminta pergantian wasit. Permintaan ini sontak membuat kaget perangkat pertandingan dan wasit Jimmy sendiri. Benar-benar memalukan!!!! Kapolda Jateng itu mengaku menyukai sepak bola tapi nampaknya dia tidak mengerti peraturan dalam sepak bola. Dalam Law of the game wasit dalam sebuah pertandingan bisa digambarkan seorang raja yang absolut tidak ada yang bisa menurunkannya dari singgasana. Jangankan Kapolda, Presiden sekalipun tidak bisa mengganti wasit. Perggantian wasit hanya terjadi bila wasit yang memimpin pertandingan tidak mampu melanjutkan tugasnya karena sakit itu pun harus ada
Apapun alasannya apa yang dilakukan oleh Kapolda Jateng itu menambah aib sepakbola kita. Ini hanya benar-benar terjadi di
Polisi itu dilatih untuk menghadapi situasi – situasi genting, kenapa harus takut dengan kerusuhan????? Bila memang terjadi kerusuhan bertindak tegaslah pada pelaku kerusuhan itu. Contohlah kepolisian Inggris dalam menindak para Hooligan. Kepolisian Inggris membentuk satuan anti Hooligan.
Kejadian memalukan ini jangan sampai terulang lagi dikemudian hari. Kepolisian harus mengetahui batas-batas kekuasaan mereka yang tidak bisa memasuki ranah sepak bola. Begitu juga dengan PSSI yang harus terus berbenah dalam berbagai aspek untuk kemajuan sepakbola
ACAB
PSSI BANGSAT
Raul Gonzalez
Pagi ini saya membaca tabloid sepakbola yang sudah cukup lama dan terkenal di negeri ini. Berita-berita dalam tabloid ini terbilang up to date ditambah penyajiannya yang menarik semakin memanjakan mata. Tabloid mingguan yang dipimpin oleh