Laman

Jumat, 28 Mei 2010

Faktor Kegagalan Persib



Liga Super Indonesia edisi kedua tinggal menyisakan satu pertandingan lagi untuk semua tim. Tapi sang juara baru telah lahir yaitu Arema Malang. Bagaimana dengan Persib?? Target Juara yang dipatok di awal musim hancur berantakan. Ada apa dengan Persib?? Berikut analisis saya sebagai bobotoh Persib. Ada faktor internal dan eksternal, tapi saya akan fokus ke faktor Internal.

Di awal musim Persib harus mengawali pertandingan dengan tandang ke Balikpapan melawan Persiba Balikpapan. Awal yang bagus akan mengangkat moral bertanding, tapi sayang dalam pertandingan ini Persib tidak bisa full team karena beberapa pemain harus menjalani hukuman larangan bermain sebagai imbas dari aksi mogok saat melawan Persitara di musim sebelumnya. Persib pun takluk di takluk di tangan tim beruang madu. Setelah dari Balikpapan Persib langsung ke Makasar untuk menghadapi PSM makasar. Dalam pertandingan kedua ini tidak jauh berbeda dengan di Balikpapan. Persib masih belum bisa turun dengan fullteam karena masih beberapa pemain inti masih dalam hukuman komdis. Akhir pertandingan pun mengecewakan, Persib kembali tumbang.

BANYAK KEHILANGAN POIN TANDANG
Musim ini Persib banyak kehilangan poin saat memainkan laga di kandang lawan. Dari 17 laga tandang, Persib hanya mampu meraih 2 kemenangan dari Bontang FC dan Persik Kediri. 3 seri dari Arema, Persipura dan Sriwijaya dan sisanya 12 kali kalah. Yang lebih ironi Persib kehilangan poin dari tim-tim yang diatas kertas kwalitasnya masih di bawah Persib seperti Pelita Jaya, Persitara, Persema, Persela, Persisam, PSPS. Ini merupakan rekor buruk bagi tim sekelas Persib yang dihuni pemain bintang.

KEHILANGAN PEMAIN BINTANG
Kepergian beberapa pemain bintang nampaknya mempengaruhi permainan Persib yang paling kentara adalah kepergian Suchao Nuchtnum dan Hilton Moreira. Suchao harus pulang kampung di bulan Februari karena masa peminjamannya dengan tim Thailand T.O.T Electric telah habis. Suchao pilar penting di lini tengah Persib.Kepergian Suchao membuat kekuatan lini tengah Persib jelas berkurang. Hilthon Moreira harus absen sampai akhir musim karena cedera lutut yang parah. Padahal saat itu Hilthon dalam puncak performanya. Selain Suchao dan Hilthon ada satu bintang lagi yang pergi yaitu Sintaweechai Kosin. Kiper yang memberikan jaminan keamanan di depan gawang harus pulang di bulan Maret untuk kembali ke tim asalnya Chonburi FC. Tapi untuk posisi kipper ini Persib dapat pengganti yang sepadan yakni kipper timnas Markus Horrison. Sedangkan Satoshi Otomo yang didatangkan untuk menempati pos Suchao tidak sesuai harapan. Setali tiga uang dengan Budi Sudarsono yang di plot untuk mengisi kekosongan yang di tinggalkan Hilthon tidak mampu menunjukan permainan terbaiknya. Malah sebaliknya Budi kerap melakukan tindakan indisipliner yang mengganggu keharmonisan tim. Ini yang harus di benahi musim depan, Persib jangan tergantung pada 1 atau 2 pemain bintang Persib harus bermain secara tim.

SKEMA DAN KOMPOSISI YANG MONOTON
Musim ini pelatih Jaya Hartono terlalu terpaku dengan skema tradisonal 3-5-2. Jaya seakan tidak mau bereksperimen dengan skema lain yang lebih modern seperti 4-4-2 atau 4-3-3. Padahal skuad Persib diisi oleh pemain yang cocok dengan skema modern itu. Selain itu Jaya jarang sekali melakukan rotasi pemain. Hampir setiap pertandingan pemainnya itu-itu saja, kalupun ada perubahan itu karena cedera atau hukuman akumulasi kartu kuning. Dengan skema dan komposisi yang jarang berubah membuat lawan mudah membaca gaya permainan Persib. Saya tidak tahu apa yang ada dalam benak Jaya. Tapi saya hargai Jaya lebih tahu tentang tim nya.

KURANG BERUNTUNG
Dalam sepak bola tidak hanya taktik, skill, dan strategi tapi keberuntungan juga mempengaruhi hasil dalam pertandingan. Tidak sedikit tim – tim yang bermain bagus dan cantik gagal memenangkan pertandingan. Saat melawan Persipura di Makasar Persib bermain cantik dengan menciptakan banyak peluang berbahaya tapi hasilnya seri. Begitu juga saat bersua dengan Persija di Jakarta, Persib bermain dengan determinasi tinggi dan berhasil dua kali unggul atas tim tuan rumah tapi kemenangan di depan mata sirna saat di masa injury time Abanda Herman mencetak gol penyeimbang. Dalam hal ini Persib masih di jauhi Dewi Keberuntungan.

Selain dari faktor internal masih ada faktor eksternal seperti padatnya jadwal, kinerja wasit yang buruk, dan konspirasi licik lainnya dari orang – orang yang tidak suka Persib. Tapi saya malas membahas factor kedua itu. Hanya akan menimbulkan amarah dan rasa benci kepada pihak tertentu.Tahun depan Persib harus juara!!!!! Kesalahan – kesalahan yang dibuat di musim ini jangan sampai terulang di musim depan. Minimal Persib harus bisa meminimalisir kesalahan – kesalahan itu. Semoga saja Persib diridhoi oleh Nya dan lebih beruntung. Amieeeen……

LAIN TEU BISA
TAPI CAN BISA

Persib selalu di hati
Persib takkan pernah mati

Selasa, 25 Mei 2010

Sinar Eto'o Ironi Ibrahimovic

Musim panas lalu Zlatan Ibrahimovic resmi bergabung dengan Jawara Liga Spanyol Barcelona. Azulgrana harus merogoh kocek sampai 40 juta pound + Samuel Eto’o untuk mendapatkan Ibrahimovic. Saat itu Joseph Guardiola pelatih Barca seperti tidak membutuhkan lagi servis Eto’o yang selama lima musim menjadi kekuatan vital di lini depan Barca. Di pihak Inter sebenarnya manajemen dan sang presiden berupaya menahan kepergian Ibra tapi sang pemain yang ngotot ingin pindah. Akhirnya Interpun bersedia menerima tawaran Barca dan melepas Ibra.

Kecewa berat saat itu yang saya rasakan sebagai Interisti. Bagaimana tidak selam tiga musim Ibra menjadi bagian penting dalam skuad Inter. Tadinya saya berharap Manajemn Inter mendatangkan Eto’o tanpa melepas Ibra. Akan menjadi duet yang menakutkan bagi siapa saja lawan Inter jika itu terwujud. Tapi sayang kenyataan berkata lain, Ibracadabra harus pergi meninggalkan Inter.

Kekecewaan tak berhenti sampai di situ. Yang lebih menyakitkan lagi saat Ibra diperkenalkan di depan publik Camp Nou. Saat jumpa pers dengan emosional Ibra menciumi kostum Barcelona dan dia pun berkata “Saya ingin meraih gelar liga Champion dan itu hanya bisa saya dapatkan jika saya bergabung dengan tim ini”. Sontak saja saya pun mulai membenci Ibra. Apa yang dia katakana seolah – olah 3 musim bersama Inter tidak ada artinya padahal tifosi inter begitu memujanya walaupun sempat ada ketegangan. Dan secara tidak langsung Ibra telah merendahkan Inter karena tidak bisa juara Liga Champion.

Kompetisi pun bergulir, di awal musim Ibra memang lebih baik daripada Eto’o. Hampir setiap pertandingan Ibra berhasil mencetak gol. Yang paling fenomenal saat gol Ibra merobek gawang Casillas dalam duel El Classico dan itu satu-satunya gol yang tercipta di pertandingan itu. Sedangkan Eto’o nampaknya masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan sepak bola Italia. Sampai paruh musim pertama Eto’o belum bisa menujukan kemampuan terbaiknya dan dia hanya bisa menyumbang 8 gol.

Paruh kedua kompetisi keadaan sedikit berubah penampilan Ibra menunjukan grafik menurun. Bahkan selama hampir 3 bulan Ibra mengalami kemandulan tidak bisa mencetak gol. Ibra pun dituding sebagai pemain yang malas berlari saat tampil di lapangan dan itu pun di buktikan dengan data statistik. Puncaknya permainan buruk Ibra gagal membawa Barca lolos ke final di laga semi final melawan Inter Milan, Ibra dibuat mati kutu oleh barisan pertahanan Inter. Inter pun menang dengan agregat 3-2.

Kedatangan Goran Pandev di paruh kedua merubah formasi Inter dari 4-3-1-2 menjadi 4-2-3-1. Formasi ini menempatkan Millito sebagai penyerang tunggal dan membuat Eto’o bermain agak kesamping. Posisi yang tidak ideal bagi seorang Eto’o tapi berhasil menjalankan peran barunya dengan sempurna. Memang Eto’o tidak banyak mencetak gol tapi permainannya patut mendapat acungan jempol. Eto’o tidak segan-segan turun ke belakang untuk membantu pertahanan. Permainan ciamiknya berhasil membawa Inter ke partai final dengan mengalahkan mantan timnya Barcelona di semi final.

Di laga final Eto’o berhasil mengantarkan Inter meraih mimpi selama 45 tahun dengan menjuarai Liga Champion. Inter berhasil menaklukan Munchen di laga final dengan skor 2-0 lewt gol Millito. Satu gol Millito tercipta lewat kreasi dan assist Eto’o. Eto’o seakan membuktikan kalau keputusan Barca melepasnya salah besar.

Samuel Eto’o yang di “buang” Barca berhasil bersinar bersama Inter sedangkan Ibrahimovic yang meninggalkan Inter untuk meraih gelar Liga Champion Justru meredup bersama Barcelona. Nampaknya hati kecil Ibra menyesal telah meninggalkan Inter karena Inter yang ternyata menjuarai Liga Champion. Ibra!!! Ini adalah balasan atas perlakuan anda yang merendahkan Inter. Barca pun sekarang berpikir untuk melepas anda. Kalau Anda ingin kembali ke Inter saya tidak yakin tifosi bisa menerima anda.

Senin, 24 Mei 2010

Inter Memang Pinter

Menit ke-34 Julo Ceasar menendang bola dari sarangnya jauh ke tengah lapangan. Diego Millito menyundul bola tendangan Ceasar pada menit ke-34 detik 05. Bola sundulan Millito jatuh di kaki Wesley Sneijder. Menit ke-34 detik 15 Sneijder memberikan umpan terobosan kepada Millito. Dengan dibayangi Van Buyten, Millito mengiring bola ke kotak pinalti. Sedikit gerakan menipu Millito menceploskan bola ke gawang Munchen yang dijaga kipper sarat pengalaman Joreg Butt.

Kemudian menit ke-69 detik 41 lewat serangan balik cepat Eto’o mengirim umpan manis kepada Millito. Millito menggiring bola, lewat aksi individu yang cantik berhasil melewati bek Munchen. Tendangan terarah ke tiang jauh erobek jala gawang Munche untuk kedua kalinya.

Inter Milan Juara Liga Champion Eropa musim 2009/2010 setelah di laga final di Stadion Santiago Barnabeu menaklukan Munchen 2-0 Inter bukanlah tim spektakuler seperti Bacelona tapi tim ini memiliki keseimbangan yang paling solid. Inter mengakhiri musim ini dengan sempurna meraih treble winner setelah sebelumnya berhasil meraih gelar Liga Italia dan Coppa Italia. Inter menjadi satu-satunya tim Italia yang berhasil merebut tiga gelar sekaligus.

Massimo Moratti tampak begitu emosional saat merayakan gelar ini. Wajar saja karena Inter harus menunggu sampai 45 tahun lamanya untuk mencium gelar ini. Inter memang pantas juara karena telah berhasil menumbangkan juara - juara di tiap negara. Rubin Kazan (Rusia), Chelsea (Inggris), Barcelona(Spanyol) dan akhirnya Bayern Munchen (Jeman).

Pantaslah Moratti begitu bangga, misi seorang putra dari Angelo Moratti sudah terwujud. Saat membeli Inter pada tahun 1995 gelar inilah yang paling diimpikan Moratti. Sekarang semuanya sudah terwujud, prestasi IL Grande Inter semasa ayahnya bisa disamai bahkan IL Grande Inter nya Morrati lebih hebat karena bisa meraih tiga gelar sekaligus.

Rabu, 19 Mei 2010

PSSI oh PSSI

Ada apa sebenarnya dengan PSSI??. Induk sepakbola negri ini tidak henti – hentinya melahirkan kontroversi. Tak usah saya sebutkan satu per satu karena pecinta sepak bola dalam negri pasti sudah tahu. Baru – baru ini PSSI kembali membuat keputusan yang kontroversi. PSSI akan menerapkan pelatnas jangka panjang untuk menghadapi dua event terdekat yakni Piala AFF 2010 dan Sea Games 2011.

“Saat klub – klub kalah telak di pentas AFC cup atau Liga Champions Asia, tidak ada yang ribut. Namun jika timnas gagal dunia seperti akan kiamat. Ini memang pilihan sulit, namun kami terpaksa mengambil pilihan pahit ini demi prestasi timnas.” Kata Sekjen PSSI Nugraha Basoes.

Saya hanya bisa tersenyum miris dan menggelengkan kepala dengan keputusan PSSI ini. Saya jadi bertanya – tanya kemana kiblat sepak bola Indonesia?? Di Eropa sebagai kiblat sepak bola modern saat ini, tidak ada istilah pelatnas jangka panjang. Timnas yang baik terlahir dari kompetisi yang baik pula. Jika kiblat kita ke Eropa benahi dulu kompetisi kita untuk menciptakan timnas yang tangguh.

Penyelenggaraan kompetisi Liga Indonesia atau sekarang lebih dikenal Liga Super Indonesia bisa dibilang kurang memuaskan. Jadwal yang dibuat oleh BLI tidak tersusun secara rapi dan begitu padat. Dalam satu bulan klub bisa bertanding sampai 6 - 7 kali dari yang normalnya 4 kali. Masa jeda istirahat pun tidak pasti ada klub yang masa istirahatnya cuma 2 hari ada juga klub yang istirahatnya sampai satu minggu lebih. Terkadang jadwal itu berbenturan dengan kalender timnas sehingga harus di jadwal ulang.Jelas sekali ini merugikan klub dan pemain. Dengan jadwal yang begitu padat itu pemain susah untuk menjaga kondisi fisiknya dan juga rentan cedera.

Bandingkan dengan sepak bola di mayoritas negara Eropa. Jadwal tersusun secara rapi, pertandingan dilangsungkan tiap akhir pekan. Perubahan jadwal hanya terjadi karena gangguan alam. Tidak ada tumpang tindih dengan kalender timnas dan Liga Champion Eropa. Dengan begitu para pemain bisa menjaga kondisi fisiknya dengan baik dan bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya saat bertanding. Saya yakin seorang Leo Messi akan kesulitan mengeluarkan kemampuan terbaiknya jika berada di kompetisi yang super padat seperti LIga Super Indonesia.

PSSI dalam hal ini BLI harus memperbaiki kinerja wasit. Klub - klub peserta Liga Super Indonesia sering mengeluhkan kinerja wasit yang buruk. Korps berbaju hitam ini seakan - akan tidak mengetahui Laws of The Game sepak bola. Peraturan - peraturan dasar seperti off side atau play on seperti tidak diketaui oleh para pengadil lapangan itu. Yang lebih ironis lagi di Liga Super Indonesia wasit tidak memiliki wibawa. Wasit takut kepada pemain bukan pemain yang takut kepada wasit. Wasit - wasit cenderung kurang tegas dalam mengambil keputusan. Protes - protes pemain terkadang mempengaruhi keputusan wasit.

Saya jadi teringat kualifikasi Piala Asia saat Indonesia menghadapi Oman. Saat itu Indonesia sedang membutuhkan nilai untuk bersaing lolos ke putaran final Piala Asia. Asa mulai mencuat saat Budi Sudarsono mencetak gol ke gawang Oman yang di kawal Al Habsyi kiper Blackburn Rovers Inggris. Tapi pelanggaran yang tidak perlu yang di lakukan oleh Ismed Sofyan berbuntut kartu merah. Dengan sepuluh pemain Indonesia tidak bisa mempertahankan keunggulan sehingga tiga poin di kandang pun sirna. Pelanggaran yang dilakukan Ismed sudah biasa dilakukan pemain yang beredar di Liga Super Indonesia. Dan wasit pun jarang memberikan hukuman yang tegas kepada pemain, sehingga kebiasaan itu terbawa oleh pemain ke tingkat internasional.

Selain itu PSSI juga harus membongkar mafia wasit yang saat ini mulai mencuat. Pengakuan dari manajer Persekabpas tentang mafia wasit ini harus di telusuri lebih dalam. Mafia wasit ini merupakan masalah besar yang harus diberantas sampai ke akar - akar nya. PSSI jangan setengah - setengah dalam kasus ini. Tim pencari fakta yang di bentuk PSSI sampai sejauh ini belum menunjukan kinerja yang bagus dalam memberantas kasus ini.

Wasit kita harus memiliki wibawa yang tinggi jangan takut kepada pemain seharusnya pemain yang takut kepada wasit dan harus terbebas dari tekanan tim tuan rumah. Wasit yang berkwalitas akan menjadi salah satu stimulus bagi klub - klub untuk berprestasi lebih baik. Pelatnas jangka panjang tidak akan menjamin timnas yang tangguh. Para pemai membutuhkan atmosfer kompetisi yang berkwalitas. Benahi dulu kompetisi kita untuk Timnas yang lebih tangguh.

Selasa, 18 Mei 2010

VIKING JAKARTA

Dukung PERSIB dimana pun kami berada bahkan dikandang lawan sekalipun.
Munculnya Viking Jakarta sebenarnya tidak jauh dari Viking Jabodetabek, karena kami masih satu induk dengan Viking Jabodetabek. Viking Jakarta adalah sub-distrik dari Viking Jabodetabek, sama halnya seperti Viking Bogor, Viking Bekasi, Viking Tangerang atau pun Viking Depok. Hanya kebetulan domisili kami benar-benar di Jakarta. Dalam Viking Jakarta, tidak ada struktur kepengurusan karena kami masih mengacu kepada kepengurusan Viking Jabodetabek, tapi ada yang diseniorkan atau dituakan. Selama ini semua anggota yang ada kurang lebih ada sekitar 80 orang. Jumlah tersebut masuk dalam keanggotaan Viking Jabodetabek yang hampir mencapai 400 anggota, jadi anggota yang Viking Jakarta hampir 20% dari Viking Jabodetabek.

Kami hadir karena kesamaan dalam hal domisili dan juga dalam kesetiaan dalam mendukung sang idola, PERSIB BANDUNG. Kami adalah keluarga dalam organisasi ini terlebih lagi kami berada diperantauan dan juga di kota yang notabene ada supporter yang merupakan musuh bebuyutan Viking Persib Club, maka kami selalu melakukan kegiatan rutin seperti futsal untuk merapatkan barisan dan mempererat kekeluargaan diantara kami, bahkan mengenalkan bagi yang belum mengenal satu dengan yang lain.
Seperti halnya keluarga tentunya masing-masing karakter dalam keluarga berbeda, karena individu yang ada didalam wadah Viking Jakarta berasal dari berbeda asalnya, bukan hanya warga Sunda, ada juga warga asli Betawi, ada juga yang berasal dari Yogyakarta atau pun dari Medan. Maka dari itu untuk menfasilitasinya kami cukup sering melakukan beberapa pertemuan baik itu dalam futsal atau pun sekedar bermain Playstasion dikediaman Ketua Viking Jabodetabek (Kang Janu). Hubungan seperti inilah yang akan membuat kami Viking Jakarta akan selalu eksis dibawah bendera Viking Jabodetabek.

Bagi kami menjaga nama baik PERSIB BANDUNG adalah suatu kehormatan. Kami akan selalu BIRU walaupun berada di daerah ORANGE, karena akan terus mendukung sang idola, PERSIB BANDUNG, dimanapun dan kapanpun, walaupun didaerah musuh sekali pun karena kami BANGGA menjadi Bobotoh PERSIB BANDUNG, nama tersebut akan kami bela sampai kapan pun.
THIS IS VIKING JAKARTA
The Real Front Line from PERSIB Bandung, stay BLUE behind the enemy lines……
“Siapa bilang Indonesia Arema (A ji g)
Indonesia milik kita semua
Yang bilang Indonesia Arema (A ji g)
Itu orang yang tidak sekolah”

Nyanyian di atas akhir – akhir sering terdengar dinyanyikan Viking di setiap pertandingan kandang Persib. Saya pribadi menyesalkan nyanyian tersebut. Apa motivasi kalian menyanyikan lagu ini padahal lawan yang dihadapi Persib bukan Arema. Lagu itu tidak akan menjatuhkan mental bertanding lawan. Lagu itu tidak akan menambah semangat bertanding pemain Persib. Lagu itu hanya akan menimbulkan permusuhan baru.

Apakah tidak cukup kita bermusuhan dengan The Jak?? Apakah karena Aremania teman The Jak sehingga kita harus memusuhinya?? Atau karena Aremania musuh Bonek (sahabat kita) sehingga kita harus memusuhi mereka juga?? Tidak seperti itu sobat…Kita bersahabat dengan Bonek bukan berarti kita harus memusuhi Aremania. Track record kita dengan Aremania sejauh ini tidak pernah ada masalah yang besar. Seharusnya kita bisa menjadi mediator antara Bonek dan Aremania supaya mereka bisa berdamai. Bonek dan Aremania sama – sama orang Jawa Timur, mereka masih bisa bersatu.

Ingatlah sobat pepatah kuno“ Satu musuh terlalu banyak, seribu teman terlalu sedikit” . Mungkin diantara kalian yang pernah tour ke Surabaya merasakan betapa indahnya kebersamaan dengan Bonek dan tidak menutup kemungkinan itu terjadi antara kita dengan Aremania. Cukuplah kita bermusuhan dengan The Jak karena mereka memang pantas untuk di musuhi. Jika saya petinggi Viking saya tidak akan malu meminta maaf kepada Aremania dan mengundang mereka saat Persib menjamu Arema.

PERSIB SELALU DI HATI
PERSIB TAK KAN PERNAH MATI