
Liga Super Indonesia edisi kedua tinggal menyisakan satu pertandingan lagi untuk semua tim. Tapi sang juara baru telah lahir yaitu Arema Malang. Bagaimana dengan Persib?? Target Juara yang dipatok di awal musim hancur berantakan. Ada apa dengan Persib?? Berikut analisis saya sebagai bobotoh Persib. Ada faktor internal dan eksternal, tapi saya akan fokus ke faktor Internal.
Di awal musim Persib harus mengawali pertandingan dengan tandang ke Balikpapan melawan Persiba Balikpapan. Awal yang bagus akan mengangkat moral bertanding, tapi sayang dalam pertandingan ini Persib tidak bisa full team karena beberapa pemain harus menjalani hukuman larangan bermain sebagai imbas dari aksi mogok saat melawan Persitara di musim sebelumnya. Persib pun takluk di takluk di tangan tim beruang madu. Setelah dari Balikpapan Persib langsung ke Makasar untuk menghadapi PSM makasar. Dalam pertandingan kedua ini tidak jauh berbeda dengan di Balikpapan. Persib masih belum bisa turun dengan fullteam karena masih beberapa pemain inti masih dalam hukuman komdis. Akhir pertandingan pun mengecewakan, Persib kembali tumbang.
BANYAK KEHILANGAN POIN TANDANG
Musim ini Persib banyak kehilangan poin saat memainkan laga di kandang lawan. Dari 17 laga tandang, Persib hanya mampu meraih 2 kemenangan dari Bontang FC dan Persik Kediri. 3 seri dari Arema, Persipura dan Sriwijaya dan sisanya 12 kali kalah. Yang lebih ironi Persib kehilangan poin dari tim-tim yang diatas kertas kwalitasnya masih di bawah Persib seperti Pelita Jaya, Persitara, Persema, Persela, Persisam, PSPS. Ini merupakan rekor buruk bagi tim sekelas Persib yang dihuni pemain bintang.
KEHILANGAN PEMAIN BINTANG
Kepergian beberapa pemain bintang nampaknya mempengaruhi permainan Persib yang paling kentara adalah kepergian Suchao Nuchtnum dan Hilton Moreira. Suchao harus pulang kampung di bulan Februari karena masa peminjamannya dengan tim Thailand T.O.T Electric telah habis. Suchao pilar penting di lini tengah Persib.Kepergian Suchao membuat kekuatan lini tengah Persib jelas berkurang. Hilthon Moreira harus absen sampai akhir musim karena cedera lutut yang parah. Padahal saat itu Hilthon dalam puncak performanya. Selain Suchao dan Hilthon ada satu bintang lagi yang pergi yaitu Sintaweechai Kosin. Kiper yang memberikan jaminan keamanan di depan gawang harus pulang di bulan Maret untuk kembali ke tim asalnya Chonburi FC. Tapi untuk posisi kipper ini Persib dapat pengganti yang sepadan yakni kipper timnas Markus Horrison. Sedangkan Satoshi Otomo yang didatangkan untuk menempati pos Suchao tidak sesuai harapan. Setali tiga uang dengan Budi Sudarsono yang di plot untuk mengisi kekosongan yang di tinggalkan Hilthon tidak mampu menunjukan permainan terbaiknya. Malah sebaliknya Budi kerap melakukan tindakan indisipliner yang mengganggu keharmonisan tim. Ini yang harus di benahi musim depan, Persib jangan tergantung pada 1 atau 2 pemain bintang Persib harus bermain secara tim.
SKEMA DAN KOMPOSISI YANG MONOTON
Musim ini pelatih Jaya Hartono terlalu terpaku dengan skema tradisonal 3-5-2. Jaya seakan tidak mau bereksperimen dengan skema lain yang lebih modern seperti 4-4-2 atau 4-3-3. Padahal skuad Persib diisi oleh pemain yang cocok dengan skema modern itu. Selain itu Jaya jarang sekali melakukan rotasi pemain. Hampir setiap pertandingan pemainnya itu-itu saja, kalupun ada perubahan itu karena cedera atau hukuman akumulasi kartu kuning. Dengan skema dan komposisi yang jarang berubah membuat lawan mudah membaca gaya permainan Persib. Saya tidak tahu apa yang ada dalam benak Jaya. Tapi saya hargai Jaya lebih tahu tentang tim nya.
KURANG BERUNTUNG
Dalam sepak bola tidak hanya taktik, skill, dan strategi tapi keberuntungan juga mempengaruhi hasil dalam pertandingan. Tidak sedikit tim – tim yang bermain bagus dan cantik gagal memenangkan pertandingan. Saat melawan Persipura di Makasar Persib bermain cantik dengan menciptakan banyak peluang berbahaya tapi hasilnya seri. Begitu juga saat bersua dengan Persija di Jakarta, Persib bermain dengan determinasi tinggi dan berhasil dua kali unggul atas tim tuan rumah tapi kemenangan di depan mata sirna saat di masa injury time Abanda Herman mencetak gol penyeimbang. Dalam hal ini Persib masih di jauhi Dewi Keberuntungan.
Selain dari faktor internal masih ada faktor eksternal seperti padatnya jadwal, kinerja wasit yang buruk, dan konspirasi licik lainnya dari orang – orang yang tidak suka Persib. Tapi saya malas membahas factor kedua itu. Hanya akan menimbulkan amarah dan rasa benci kepada pihak tertentu.Tahun depan Persib harus juara!!!!! Kesalahan – kesalahan yang dibuat di musim ini jangan sampai terulang di musim depan. Minimal Persib harus bisa meminimalisir kesalahan – kesalahan itu. Semoga saja Persib diridhoi oleh Nya dan lebih beruntung. Amieeeen……
LAIN TEU BISA
TAPI CAN BISA
Persib selalu di hati
Persib takkan pernah mati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar