Laman

Rabu, 19 Mei 2010

PSSI oh PSSI

Ada apa sebenarnya dengan PSSI??. Induk sepakbola negri ini tidak henti – hentinya melahirkan kontroversi. Tak usah saya sebutkan satu per satu karena pecinta sepak bola dalam negri pasti sudah tahu. Baru – baru ini PSSI kembali membuat keputusan yang kontroversi. PSSI akan menerapkan pelatnas jangka panjang untuk menghadapi dua event terdekat yakni Piala AFF 2010 dan Sea Games 2011.

“Saat klub – klub kalah telak di pentas AFC cup atau Liga Champions Asia, tidak ada yang ribut. Namun jika timnas gagal dunia seperti akan kiamat. Ini memang pilihan sulit, namun kami terpaksa mengambil pilihan pahit ini demi prestasi timnas.” Kata Sekjen PSSI Nugraha Basoes.

Saya hanya bisa tersenyum miris dan menggelengkan kepala dengan keputusan PSSI ini. Saya jadi bertanya – tanya kemana kiblat sepak bola Indonesia?? Di Eropa sebagai kiblat sepak bola modern saat ini, tidak ada istilah pelatnas jangka panjang. Timnas yang baik terlahir dari kompetisi yang baik pula. Jika kiblat kita ke Eropa benahi dulu kompetisi kita untuk menciptakan timnas yang tangguh.

Penyelenggaraan kompetisi Liga Indonesia atau sekarang lebih dikenal Liga Super Indonesia bisa dibilang kurang memuaskan. Jadwal yang dibuat oleh BLI tidak tersusun secara rapi dan begitu padat. Dalam satu bulan klub bisa bertanding sampai 6 - 7 kali dari yang normalnya 4 kali. Masa jeda istirahat pun tidak pasti ada klub yang masa istirahatnya cuma 2 hari ada juga klub yang istirahatnya sampai satu minggu lebih. Terkadang jadwal itu berbenturan dengan kalender timnas sehingga harus di jadwal ulang.Jelas sekali ini merugikan klub dan pemain. Dengan jadwal yang begitu padat itu pemain susah untuk menjaga kondisi fisiknya dan juga rentan cedera.

Bandingkan dengan sepak bola di mayoritas negara Eropa. Jadwal tersusun secara rapi, pertandingan dilangsungkan tiap akhir pekan. Perubahan jadwal hanya terjadi karena gangguan alam. Tidak ada tumpang tindih dengan kalender timnas dan Liga Champion Eropa. Dengan begitu para pemain bisa menjaga kondisi fisiknya dengan baik dan bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya saat bertanding. Saya yakin seorang Leo Messi akan kesulitan mengeluarkan kemampuan terbaiknya jika berada di kompetisi yang super padat seperti LIga Super Indonesia.

PSSI dalam hal ini BLI harus memperbaiki kinerja wasit. Klub - klub peserta Liga Super Indonesia sering mengeluhkan kinerja wasit yang buruk. Korps berbaju hitam ini seakan - akan tidak mengetahui Laws of The Game sepak bola. Peraturan - peraturan dasar seperti off side atau play on seperti tidak diketaui oleh para pengadil lapangan itu. Yang lebih ironis lagi di Liga Super Indonesia wasit tidak memiliki wibawa. Wasit takut kepada pemain bukan pemain yang takut kepada wasit. Wasit - wasit cenderung kurang tegas dalam mengambil keputusan. Protes - protes pemain terkadang mempengaruhi keputusan wasit.

Saya jadi teringat kualifikasi Piala Asia saat Indonesia menghadapi Oman. Saat itu Indonesia sedang membutuhkan nilai untuk bersaing lolos ke putaran final Piala Asia. Asa mulai mencuat saat Budi Sudarsono mencetak gol ke gawang Oman yang di kawal Al Habsyi kiper Blackburn Rovers Inggris. Tapi pelanggaran yang tidak perlu yang di lakukan oleh Ismed Sofyan berbuntut kartu merah. Dengan sepuluh pemain Indonesia tidak bisa mempertahankan keunggulan sehingga tiga poin di kandang pun sirna. Pelanggaran yang dilakukan Ismed sudah biasa dilakukan pemain yang beredar di Liga Super Indonesia. Dan wasit pun jarang memberikan hukuman yang tegas kepada pemain, sehingga kebiasaan itu terbawa oleh pemain ke tingkat internasional.

Selain itu PSSI juga harus membongkar mafia wasit yang saat ini mulai mencuat. Pengakuan dari manajer Persekabpas tentang mafia wasit ini harus di telusuri lebih dalam. Mafia wasit ini merupakan masalah besar yang harus diberantas sampai ke akar - akar nya. PSSI jangan setengah - setengah dalam kasus ini. Tim pencari fakta yang di bentuk PSSI sampai sejauh ini belum menunjukan kinerja yang bagus dalam memberantas kasus ini.

Wasit kita harus memiliki wibawa yang tinggi jangan takut kepada pemain seharusnya pemain yang takut kepada wasit dan harus terbebas dari tekanan tim tuan rumah. Wasit yang berkwalitas akan menjadi salah satu stimulus bagi klub - klub untuk berprestasi lebih baik. Pelatnas jangka panjang tidak akan menjamin timnas yang tangguh. Para pemai membutuhkan atmosfer kompetisi yang berkwalitas. Benahi dulu kompetisi kita untuk Timnas yang lebih tangguh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar