Musim panas lalu Zlatan Ibrahimovic resmi bergabung dengan Jawara Liga Spanyol Barcelona. Azulgrana harus merogoh kocek sampai 40 juta pound + Samuel Eto’o untuk mendapatkan Ibrahimovic. Saat itu Joseph Guardiola pelatih Barca seperti tidak membutuhkan lagi servis Eto’o yang selama lima musim menjadi kekuatan vital di lini depan Barca. Di pihak Inter sebenarnya manajemen dan sang presiden berupaya menahan kepergian Ibra tapi sang pemain yang ngotot ingin pindah. Akhirnya Interpun bersedia menerima tawaran Barca dan melepas Ibra.
Kecewa berat saat itu yang saya rasakan sebagai Interisti. Bagaimana tidak selam tiga musim Ibra menjadi bagian penting dalam skuad Inter. Tadinya saya berharap Manajemn Inter mendatangkan Eto’o tanpa melepas Ibra. Akan menjadi duet yang menakutkan bagi siapa saja lawan Inter jika itu terwujud. Tapi sayang kenyataan berkata lain, Ibracadabra harus pergi meninggalkan Inter.
Kekecewaan tak berhenti sampai di situ. Yang lebih menyakitkan lagi saat Ibra diperkenalkan di depan publik Camp Nou. Saat jumpa pers dengan emosional Ibra menciumi kostum Barcelona dan dia pun berkata “Saya ingin meraih gelar liga Champion dan itu hanya bisa saya dapatkan jika saya bergabung dengan tim ini”. Sontak saja saya pun mulai membenci Ibra. Apa yang dia katakana seolah – olah 3 musim bersama Inter tidak ada artinya padahal tifosi inter begitu memujanya walaupun sempat ada ketegangan. Dan secara tidak langsung Ibra telah merendahkan Inter karena tidak bisa juara Liga Champion.
Kompetisi pun bergulir, di awal musim Ibra memang lebih baik daripada Eto’o. Hampir setiap pertandingan Ibra berhasil mencetak gol. Yang paling fenomenal saat gol Ibra merobek gawang Casillas dalam duel El Classico dan itu satu-satunya gol yang tercipta di pertandingan itu. Sedangkan Eto’o nampaknya masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan sepak bola Italia. Sampai paruh musim pertama Eto’o belum bisa menujukan kemampuan terbaiknya dan dia hanya bisa menyumbang 8 gol.
Paruh kedua kompetisi keadaan sedikit berubah penampilan Ibra menunjukan grafik menurun. Bahkan selama hampir 3 bulan Ibra mengalami kemandulan tidak bisa mencetak gol. Ibra pun dituding sebagai pemain yang malas berlari saat tampil di lapangan dan itu pun di buktikan dengan data statistik. Puncaknya permainan buruk Ibra gagal membawa Barca lolos ke final di laga semi final melawan Inter Milan, Ibra dibuat mati kutu oleh barisan pertahanan Inter. Inter pun menang dengan agregat 3-2.
Kedatangan Goran Pandev di paruh kedua merubah formasi Inter dari 4-3-1-2 menjadi 4-2-3-1. Formasi ini menempatkan Millito sebagai penyerang tunggal dan membuat Eto’o bermain agak kesamping. Posisi yang tidak ideal bagi seorang Eto’o tapi berhasil menjalankan peran barunya dengan sempurna. Memang Eto’o tidak banyak mencetak gol tapi permainannya patut mendapat acungan jempol. Eto’o tidak segan-segan turun ke belakang untuk membantu pertahanan. Permainan ciamiknya berhasil membawa Inter ke partai final dengan mengalahkan mantan timnya Barcelona di semi final.
Di laga final Eto’o berhasil mengantarkan Inter meraih mimpi selama 45 tahun dengan menjuarai Liga Champion. Inter berhasil menaklukan Munchen di laga final dengan skor 2-0 lewt gol Millito. Satu gol Millito tercipta lewat kreasi dan assist Eto’o. Eto’o seakan membuktikan kalau keputusan Barca melepasnya salah besar.
Samuel Eto’o yang di “buang” Barca berhasil bersinar bersama Inter sedangkan Ibrahimovic yang meninggalkan Inter untuk meraih gelar Liga Champion Justru meredup bersama Barcelona. Nampaknya hati kecil Ibra menyesal telah meninggalkan Inter karena Inter yang ternyata menjuarai Liga Champion. Ibra!!! Ini adalah balasan atas perlakuan anda yang merendahkan Inter. Barca pun sekarang berpikir untuk melepas anda. Kalau Anda ingin kembali ke Inter saya tidak yakin tifosi bisa menerima anda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar