Laman

Minggu, 18 Juli 2010

Leg pertama Arema vs Persib

Pertandingan leg pertama babak perempat final Piala Indonesia antara Arema Indonesia vs Persib Bandung akhirnya dimenangkan oleh tuan rumah Arema dengan skor yang cukup telak 3-0. Ketiga gol yang dicetak oleh Arema semuanya terjadi di babak ke-2. Di babak pertama Arema mendominasi jalannya pertandingan dengan memeragakan permainan cepat dan menekan pertahanan Persib. Beberapa peluang tercipta lewak kaki Roman Chemelo, M.Ridhuan, dan M.Fakhrudin. Namun karena kesigapan Markus Harisson gawang Persib tetap perawan.

Kehilangan Eka Ramdani dan Satoshi Otomo di lini tengah menyebabkan Persib kesulitan mengimbangi permainan lini tengah Arema. Cucu Hidayat yang diplot untuk mengisi pos Eka Ramdani bermain kurang maksimal, begitu pun dengan Atep yang digeser bermain ke tengah. Nampaknya hanya Hariono yang bermain cukup bagus di babak pertama. Sepuluh menit terakhir babak pertama para pemain Persib mencoba keluar dari tekanan Arema dan melakukan serangan balik ke jantung pertahanan Arema.

Beberapa kali Gonzalez dan Budi Sudarsono dilanggar oleh para pemain Arema. Sebenarnya Persib mendapat peluang mutiara saat umpan silang Wildansyah dari sayap kiri disambut oleh Budi Sudarsono yang berdiri bebas, Budi pun dilanggar oleh Piere Njanka dan wasit Jimmy asal Jakarta tanpa ragu menunjuk titik putih. Sayang seribu sayang Gonzalez yang menjadi eksekutor pinalti gagal menaklukan kipper masa depan Indonesia Kurnia Meiga. Tendangan keras Gonzalez berhasi di tepis dengan gemilang.

Di awal babak kedua Persib mencoba menguasai pertandingan dengan memainkan bola dari kaki ke kaki. Tapi sayang suplai bola ke lini depan yang minim dan berlapisnya pertahanan Arema membuat serangan Persib mudah dimentahkan. Sebaliknya Arema membuka keunggulan di menit 60 melalui tendangan Volly Rahmad Affandi memanfaatkan umpan lambung Zulkifli dari sisi kiri pertahanan Persib. Selang beberapa menit Arema menambah keunggulannya lewat pinalti Piere Njankan setelah tendangan volley Dendy Santoso mengenai tangn Gilang Angga. Unggul 2-0 tidak membuat tekanan Arema menjadi longgar, pemain Arema terus menggempur pertahanan Persib dan akhirnya gol ketiga pun lahir melalui Dendy Santoso memanfaatkan celah kosong di sisi kiri pertahanan Persib. Sisi kiri pertahanan Persib merupakan kartu mati dalam pertandingan itu.

Tertinggal 3 gol membuat Persib mau tidak mau harus bermain menyerang, Robby Darwis memasukan Airlangga dan Munadi untuk menambah daya gedor. Namun lagi-lagi pertahanan Arema yang disiplin membuat serangan Persib selalu gagal. Mendekati akhir pertandingan Persib kembali mendapatkan hadiah pinalti setelah Budi dilanggar di kotak pinalti. Gonzalez yang menjadi eksekutor untuk kedua kalinya kembali gagal menaklukan Kurnia Meiga. Sampai berbunyinya pluit tanda pertandingan berakhir skor tidak berubah 3-0 untuk Arema

Hasil ini membuat satu kaki Arema sudah berada di semifinal, sebaliknya akan menjadi tugas berat bagi Robby Darwis untuk membalikkan keadaan saat Persib menjamu Arema di Bandung tgl 22 Juli.

Jumat, 16 Juli 2010

SUPPORTER

Dalam sepuluh tahun terakhir ini sepakbola Indonesia menunjukan grafik yang menurun. Janganlah kita berbicara tingkat Asia, tingkat Asean saja Indonesia sudah mulai keteteran dengan kemajuan yang ditunjukan oleh sesama negara tetangga. Salah satu contohnya Indonesia dalam Piala Tiger yang kini menjadi Piala AFF selalu mudah masuk final, walaupun selalu kalah di partai puncak itu. Sekarang untuk lolos ke semifinal saja Indonesia sudah terengah-engah.

Jika dulu Indonesia menjadikan Vietnam, Laos, Kamboja, Filipina, Brunei sebagai lumbung gol sekarang sudah tidak bisa lagi. Negara-negara itu menunjukan grafik yang meningkat terutama dua nama terdepan. Vietnam dengan mengejutkan banyak pihak berhasil menjuarai Piala AFF terakhir dengan menghancurkan raksasa Asia Tenggara Thailnad. Vietnam juga berhasil melangkah lebih jauh dari Indonesia dalam Kualifikasi Pilala Dunia 2010.

Yang paling mengejutkan dan menusuk hati supporter Indonesia adalah kemajuan Laos. Dalam pergelaran Sea Games terakhir Indonesia dikalahkan oleh Loas 2 gol tanpa balas. Kenyataan yang sangat menyakitkan karena dalam sejarah sepak bola Indonesia, Laos tidak pernah bisa mengalahkan Indonesia.

Ada apa dengan sepak bola Indonesia?? Banyak faktor yang menyebabkan sepakbola Indonesia seprti terjun payung. Banyak yang berkata “ Sepak bola Indonesia tidak akan maju karena supporter nya suka pada rusuh” atau “Supporter di Indonesia kampungan, kalau tim kesayangnnya kalah pasti rusuh, wajar saja sepak bola nya tidak maju-maju.”

Harus diakui supporter klub Liga Indonesia selalu berbuat rusuh yang menjurus anarkis, tidak hanya supporter berbeda tim tapi juga supporter dengan tim yang sama. Tak perlu disebutkan lagi kerusuhan yang ditimbulkan oleh mereka. Semua orang sudah tahu bagaimana Viking vs The Jakwaria ataupun Aremania vs Bonek. Tidak hanya 4 kelompok terbesar itu, kelompok lainnya pun selalu berulah.

Tapi perlu ditekankan KETERPURUKAN SEPAKBOLA INDONESIA BUKAN KARENA SUPPORTERNYA YANG SUKA RUSUH. Tulisan ini bukan merupakan pembenaran bagi kerusuhan yang selalu ditimbulkan oleh supporter di Indonesia. Segala bentuk kerusuhan itu adalah hal negative apapun alasannya.

Jika kita berkaca kepada sepak bola Eropa, sepakbola yang sudah sangat maju. Supporter di benua biru itu justru lebih keras dan lebih gila. Di Eropa semua orang sudah tahu reputasi buruk Hooligan dan Ultras. Hooligan merupakan sebutan untuk supporter Inggris dan Ultras sebutan untuk supporter Italia. Dan kemudian nama itu diadopsi oleh negara-negara lain di Eropa bahkan sampai ke Asia. Saya tidak akan menjelaskan lebih jauh lagi tentang Hooligan dan Ultras silahkan saja liat video di bawah ini dan anda nilai sendiri.





Terakhir bagi kalian yang menganggap keterpurukan sepak bola Indonesia karena ulah supporternya, Kalian SALAH BESAR!!!!. Selama Rezim NH berkuasa di PSSI sampai kapanpun sepakbola Indonesia tidak akan maju. Rezim NH tidak benar-benar mencintai sepakbola mereka hanya menjadikan PSSI sebagai kendaraan politik untuk mencapai tujuan pribadi dan golongannya

Kamis, 08 Juli 2010

Pelatih dan Propaganda


Kompetisi Liga Super Indonesia akan segera datang dan menjadi tantangan bagi Persib Bandung. Tapi sampai sejauh ini Manajemen masih belum menentukan siapa yang akan menjadi arsitek Persib musim depan. Alasan yang diapungkan oleh manajemen memang masuk akal, jika terburu-buru menentukan pelatih untuk musim depan takutnya mengganggu konsentrasi tim yang sedang berjuang untuk merebut gelar tersisa Piala Indonesia.

Kehadiran Daniel Darko Janakovic memang sedikit memberikan gambaran siapa yang akan melatih persib musim depan. Sepertinya hanya menunggu waktu saja bagi Daniel untuk menjadi pelatih kepala Persib. Saya bisa pastikan 75% Daniel akan menjadi pelatih Persib musim depan. Kenapa?? Karena Daniel adalah pilihan dari Konsorsium Peduli Persib yang selama ini menjadi sumber dana bagi Persib. Selain itu Daniel adalah rekomendasi dari pelatih top dunia Bora Milyutinovic yang berhasil membawa beberapa negara berlaga di Piala Dunia.

Seandainya Daniel jadi menukangi Persib musim depan, selain dia harus memenuhi persyaratan seperti yang saya tulis di postingan sebelum ini dia juga harus menganggap sepak bola seperti perang. Dalam peperangan sebelum kita menghancurkan kota musuh kita harus menhancurkan psikis atau kejiwaan pasukan lawan. Sun Tzu dalam karyanya Ping-fa (The Art of War) menulis. "Semua perang", katanya. "berdasarkan pengelabuan. Oleh karena itu, ketika mampu menyerang, kita harus terlihat tidak berdaya, ketika kita menggunakan kekuatan, kita harus terlihat tidak aktif, ketika kita dekat, kita harus membuat percaya bahwa kita sangat jauh, ketika kita berada jauh, kita harus membuat mereka yakin kita dekat. Tahan musuh, munculkan kekakaucan dan serang mereka".

Memang bisa dimengerti oleh akal kenapa kita harus menghancurkan atau sekedar mengacaukan mental lawan terlebih dahulu. Karena di saat lawan sedang lengah secara mental kita akan mudah menghancurkan lawan. Untuk melakukan hal tersebut sang pelatih dalam hal ini Daniel bisa menggunakan teknik propaganda.

Ada 7 Teknik Propaganda yang terkenal (disadur dari buku The Fine Art of Prapaganda, Alfred McClung Lee & Alizabeth Briant Lee, 1939)
1. Name Calling, teknik memberikan label buruk pada sesuatu gagasan/orang/lembaga supaya sasaran tidak menyukai atau menolaknya.
2. Glittering Generality, teknik menghubungkan sesuatu dengan ‘kata yang baik’ dipakai untuk membuat sasaran menerima dan menyetujui sesuatu tanpa memeriksa bukti-bukti.
3. Transfer, teknik membawa otoritas, dukungan, gengsi dari sesuatu yang dihargai dan disanjung kepada sesuatu yang lain agar sesuatu yang lain itu lebih dapat diterima.
4. Testimoni (kesaksian), teknik memberi kesempatan pada orang-orang yang mengagumi atau membenci untuk mengatakan bahwa sebuah gagasan atau program atau produk atau seseorang itu baik atau buruk.
5. Plain Folks, teknik propaganda yang dipakai pembicara propaganda dalam upaya meyakinkan sasaran bahwa dia dan gagasan-gagasannya adalah bagus karena mereka adalah bagian dari ‘rakyat’.
6. Card Staking, meliputi pemilihan dan pemanfaatan fakta atau kebohongan, ilustrasi atau penyimpangan, dan pernyataan-pernyataan logis atau tidak logis untuk memberikan kasus terbaik atau terburuk pada suatu gagasan, program, orang, atau produk. Teknik ini memilih argument atau bukti yang mendukung sebuah posisi dan mengabaikan hal-hal yang mendukung posisi itu. Argument-argumen yang dipilih bisa benar atau salah.
7. Bandwagon, teknik ini digunakan dalam rangka meyakinkan kepada sasaran bahwa semua anggota suatu kelompok (di mana sasaran menjadi anggotanya) menerima programnya, dan oleh karena itu sasaran harus mengikuti kelompok dan segera menggabungkan diri pada kelompok.

Saya kagum dengan Jose Mourinho yang saat ini menangani Real Madrid raksasa Spanyol dan Eropa. Terlepas dari tingkah lakunya yang menurut banyak orang krontroversial, dia adalah pelatih yang mampu menerapkan teknik propaganda dengan elegan untuk mengacaukan konsentrasi lawan.

Selama ini saya belum melihat pelatih Persib yang bisa mengacaukan kejiwaan lawan dengan teknik propaganda. Semoga saja Daniel menjadi pelatih pertama yang melakukan hal tersebut dengan elegan dan tidak kampungan. Semoga saja musim depan di tangan Daniel, Persib bisa meraih kembali mahkotanya yang telah lama hilang.

LAIN TEU BISA
TAPI CAN BISA
Persib Selalu di Hati
Persib Takkan Pernah Mati