Laman

Kamis, 12 Agustus 2010

Hanya Ada di Indonesia

Ya itulah judul yang pantas untuk apa yang terjadi di final Piala Indonesia yang berlangsung di Solo tgl 1 Agustus lalu. Sepak Bola Indonesia selalu saja menghadirkan kontroversi daripada prestasi yang bisa dibanggakan. Apa yang terjadi di Solo merupakan tanda kalau PSSI sudah tidak memiliki lagi wibawa di mata institusai lainnya di negri ini. Seperti kita tahu dalam pertandingan final yang mempertemukan juara bertahan Sriwijaya FC dan Arema Malang sempat terhenti hampir satu jam lamanya.

Pada saat itu Kapolda Jateng Irjen Polisi Alex Bambang Riatmodjo meminta pergantian wasit. Menurut Alex,  wasit Jimmy Natpitupilu asal Jakarta yang memimpin jalannya pertandingan final itu berat sebelah. Kejadian bermula saat striker Arema asal Singapura Noh Alam Shah melakukan tendangan kung fu yang membahayakan pemain bertahan Sriwijaya FC. Jimmy pun langsung menghadiahi Along kartu merah. Keputusan Jimmy ini memancing kemarahan Aremania yang memadati stadion Manahan Solo. Oknum Aremania melakukan pelemparan ke dalam lapangan pertandingan dan merusak fasilitas Stadion Manahan Solo.

Pada saat jeda babak pertama dengan alasan keamanan Kapolda Jateng meminta pergantian wasit. Permintaan ini sontak membuat kaget perangkat pertandingan dan wasit Jimmy sendiri. Benar-benar memalukan!!!! Kapolda Jateng itu mengaku menyukai sepak bola tapi nampaknya dia tidak mengerti peraturan dalam sepak bola. Dalam Law of the game wasit dalam sebuah pertandingan bisa digambarkan seorang raja yang absolut tidak ada yang bisa menurunkannya dari singgasana. Jangankan Kapolda, Presiden sekalipun tidak bisa mengganti wasit. Perggantian wasit hanya terjadi bila wasit yang memimpin pertandingan tidak mampu melanjutkan tugasnya karena sakit itu pun harus ada surat keterangan dari Dokter.

Apapun alasannya apa yang dilakukan oleh Kapolda Jateng itu menambah aib sepakbola kita. Ini hanya benar-benar terjadi di Indonesia. Saat babak 16 besar Piala Dunia 2010  yang mempertemukan Inggris vs German terjadi kontroversi saat gol Lampard tidak di sahkan wasit, tapi kepolisian setempat tidak meminta pergantian wasit. Padahal saat itu stadion dipadati oleh Hooligan Inggris yang terkenal tukang rusuh. Contoh lainnya semifinal Liga Champion antara Chelsea vs Barcelona. Dalam pertandingan itu terjadi 4 kali pelanggaran yang sangat jelas di kotak pinalti Barca tapi wasit tidak menunjuk titik putih. Saat itu pun kepolisian London tidak meminta pergantian wasit.

Polisi itu dilatih untuk menghadapi situasi – situasi genting, kenapa harus takut dengan kerusuhan????? Bila memang terjadi kerusuhan bertindak tegaslah pada pelaku kerusuhan itu. Contohlah kepolisian Inggris dalam menindak para Hooligan. Kepolisian Inggris membentuk satuan anti Hooligan.

Kejadian memalukan ini jangan sampai terulang lagi dikemudian hari. Kepolisian harus mengetahui batas-batas kekuasaan mereka yang tidak bisa memasuki ranah sepak bola. Begitu juga dengan PSSI yang harus terus berbenah dalam berbagai aspek untuk kemajuan sepakbola Indonesia

 

ACAB

PSSI BANGSAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar