Laman

Jumat, 03 September 2010

NURDIN DI "GOYANG" (KEMBALI)

Tanggal 4 Juni lalu KOI mengesahkan AD/ART terbarunya. Pengesahan AD/ART ini sudah disetujui secara aklamasi oleh para anggota yang hadir pada Kongres Istimewa KOI bulan Mei lalu. AD/ART ini pun sudah dikirim ke Komite Olahraga Internasional (IOC). Pengesahan AD/ART ini membuat Ketua Umum PSSI Nurdin Halid kebakaran jenggot. Ya.. Karena dalam AD/ART terbaru ini ada pasal yang menyebut soal larangan seorang mantan narapidana memimpin organisasi olahraga nasional..

Kita semua tahu Nurdin pernah dua kali mendekam di “hotel” Cipinang karena terkait 2 kasus korupsi. Pertama kasus penyelundupan gula impor illegal pada 2004. Satu lagi tahun 2007 kasus korupsi impor beras dan minyak goreng.

Nurdin pun marah dengan pasal dalam AD/ART KOI ini. Pasalnya Nurdin tidak bisa mencalonkan lagi sebagai ketua untuk periode mendatang. Pria kelahiran Bone ini seperti di “goyang “ kembali. Pada tahun 2009 FIFA juga sempat tidak mengakui status Nurdin sebagai Ketua Umum PSSI karena status mantan napinya menyalahi statute FIFA. Tapi akhirnya lewat lobi-lobi yang intensif dari konco-konco Nurdin di jajaran teras PSSI, FIFA pun mengakui Nurdin sebagai Ketua Umum PSSI.

Dalam dialognya dengan salah seorang wartawan media olahraga Nasional, Nurdin tidak mengakui pengesahan AD/ART KOI tersebut. “Pengesahan AD/ART menyalahi aturan organisasi. Seharusnya rancangan draf AD/ART yang telah disusun tim pokja yang diketuai Ketua KOI Rita Subowo dipaparkan ke rapat pleno, tidak serta merta disahkan dan langsung dikirim ke IOC” kata pria asal Makasar ini.

Nurdin pun tidak akan menuruti isi pasal soal mantan napi dalam AD/ART KOI. Alasannya AD/ART tersebut menyalahi UUD 45 pasal 28, UU no 3 tahun 1999 tentang HAM, dan UU no 11 tahun 2005 tentang Ratifikasi, Konvensi Hak Sipil dan Politik.

Dengan nada berapi-api Nurdin berkata “Perlu dicatat jangankan untuk menjadi Ketua Umum PSSI, untuk menjadi Presiden RI sekalipun saya diperbolehkan. Lha ironisnya KOI justru mengebiri hak azasi saya sebagai warga Negara. Kasihan dong saya dan Bob Hasan (Ketua PASI) hanya karena pernah mendekam di penjara lantas tidak boleh aktif membina dan memajukan dunia olahraga nasional.”

Nurdin pun memberikan sejumlah nama seperti A.M. Fatwa yang pernah dipenjara tapi di kemudian hari menjadi wakil Ketua MPR/DPR. Nelson Mandela yang diperlakukan amat istimewa oleh FIFA saat penyelenggaraan WC 2010 Afsel padahal Mandela pernah dipenjara selama 28 tahun.

Sah-sah saja jika Nurdin protes karena dia punya tameng hukum dalam UU yang disebut di atas. Tapi jika Nurdin memberikan contoh seperti A.M. Fatwa dan Nelson Mandela itu konteksnya sangat berbeda dengan Nurdin saat ini. A.M. Fatwa dijebloskan ke penjara karena pandangan politiknya bersebrangan dengan politik Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto yang berkuasa saat itu. Sedangkan Nelson Mandela terbelenggu dalam penjara selama hampir 28 tahun karena melakukan perlawanan terhadap rezim Apartheid yang membedakan warna kulit di Afrika Selatan. Setelah rezim Orde Baru dan Aparheid runtuh A.M. Fatwa dan Mandela bahkan dianggap sebagai pahlawan. Sedangkan Nurdin dua kali masuk penjara karena kasus korupsi yang selama ini sangat di benci masyarakat Indonesia.

Pembentukan AD/ART KOI didasari oleh etika dan keinginan luhur olahraga sebagai ajang yang menjunjung tinggi kehormatan, kejujuran, persahabatan dan disiplin. Kita lihat saja faktanya di masyarakat, PSSI di bawah pimpinan Nurdin Halid seperti tidak memiliki wibawa. Cemoohan, hinaan dan umpatan setiap harinya terus keluar dari mulut masyarakat Indonesia dengan miskinnya prestasi timnas, maraknya kasus suap, penyelenggaraan kompetisi yang masih acak-acakan bin amburadul, anarkisme dan hal buruk lainnya.

Buka hati nurani Anda Bapak Nurdin Halid yang terhormat. Sampai detik ini Anda tidak bisa memberikan citra positif bagi masyarakat Indonesia. Masyarakat sudah kenyang dengan program kerja yang Anda anggap baik selama ini tapi kenyataannya prestasi timnas terus menukik tajam. Kalau Anda memang memiliki niat tulus untuk memajukan sepak bola Indonesia berjiwa satria lah untuk turun dari singgasana Anda saat ini.

Untuk memajukan sepak bola nasional tidak menjadi Ketua Umum PSSI pun Anda bisa melakukannya, contohnya Anda bisa mendirikan Akademi Sepak Bola yang bisa mencetak pemain-pemain hebat di masa mendatang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar