Laman

Sabtu, 04 Juni 2011

Soeratin Pasti Menangis

Kapan kekisruhan ini akan berakhir?? Kami sudah lelah dengan semua ini. Apakah kalian tidak ingat dengan perjuangan Soeratin, Maladi, Saelan, dan para pendiri PSSI lainnya? Kenapa kalian selalu memaksakan kehendak dan kepentingan kelompok? Kami lelah mendengar kalian mengatasnamakan rakyat. Kalian itu orang pintar, apa karena kalian terlalu pintar sehingga keadaan menjadi seperti ini. Sebenarnya kalau mengikuti aturan yang ada, tidak akan seperti sekarang ini. Dan pertanyaan terakhir, apakah kalian siap dituntut oleh seluruh rakyat Indonesia??

Mungkin pertanyaan diatas ada dalam kepala para pecinta sepakbola dan mungkin masih banyak pertanyaan lainnya. Setelah lengsernya rezim Nurdin Halid yang berkuasa di PSSI selama dua periode ternyata kisruh di PSSI belum juga usai. Kalau dulu actor utama kekisruhan PSSI adalah Nurdin Halid kini actor utamanya Kelompok 78 dan Komite Normalisasi bentukan FIFA yang diketuai Agum Gumelar. Setelah kisruh PSSI episode Nurdin yang digulingkan oleh kelompok 78, FIFA membentuk Komite Normalisasi yang diberi mandate untuk menyelenggarakan Kongres PSSI dan memilih Ketua baru sesual dengan Statuta FIFA. Selain membentuk Komite Normalisasi FIFA pun melarang 4 calon terdahulu yakni, Nurdin Halid, Nirwan Darmawan Bakrie, George Toisutta, dan Arifin Panigoro untuk mencalonkan kembali menjadi Ketua Umum PSSI. FIFA mengambil keputusan ini karena melihat Kongres di Pekanbaru berakhir ricuh.

Keputusan ini kontan membuat Kelompok 78 yang mengusung George Toisutta dan Arifin Panigoro seperti kebakaran jenggot. Mereka begitu ngotot untuk mencalonkan kedua figure ini padahal FIFA sudah sangat jelas melarang mereka. Kelompok 78 menekan Agum Gumelar selaku Ketua Normalisasi untuk melobi FIFA supaya kedua figure ini bisa dicalonkan sebagai Ketua Umum PSSI. Agum Gumelar pun mengakomodir keingnina Kelompok 78 dengan menemui Presiden FIFA Seep Blater di Zurich Swiss pada tanggal 19 April.

Hasil dari pertemuan itu tetap melarang George Toisutta dan Arifin Panigoro. Jika PSSI melanggar aturan FIFA maka FIFA akan menjatuhkan sanksi bagi Indonesia. Indonesia akan dibekukan dari kancah sepakbola Internasional yang berada di bawah naungan FIFA. Ancaman yang sangat menyeramkan bagi pecinta sepakbola Indonesia karena Indonesia tidak bisa mengikuti Sea Games, Asian Games, Pra Piala Dunia, Pra Olimpiade, Liga Champion Asia, dan Piala AFC. Ancaman FIFA ini tidak membuat Kelompok 78 menciut. Mereka semakin menjadi-jadi dengan melaporkan FIFA ke Badan Arbitase Olahraga Internasional (CAS). Pengaduan mereka ditolak oleh CAS karena FIFA adalah badan tertinggi sepakbola dunia.

Kongres untuk pemilihan Ketua Umum PSSI periode 2011-2015 akhirnya bisa terselenggara sesuai jadwal yaitu tgl 20 Mei tapi sayang Kongres berakhir deadlock karena ulah Kelompok 78 yang terus mempertanyakan dilarangnya George Toisutta dan Arifin Panigoro. Setelah sesi kedua kongres dimulai hujan interupsi pun mewarnai jalannya kongres. Agenda sidang yang seharusnya memilih Ketua baru malah dibelokkan oleh kelompok 78 yang ingin meminta penjelasan dari perwakilan FIFA. Thierry Regenass akhirnya buka suara "Sebelumnya saya ingin menyatakan bahwa Sepp Blatter telah memberitahu saya bahwa dirinya ingin mendengar kabar baik darinya saat bertemu di Swiss. Sebenarnya saya adalah seorang pengamat yang tidak akan berbicara sama sekali, tetapi karena saya diminta maka saya akan menjelaskan sejelas-jelasnya," ujar Regenass. “FIFA telah melarang empat orang bukan hanya dua orang, dan salah satu esensi yang wajib dipegang oleh anggota FIFA adalah tidak boleh ada kegiatan yang berada di luar kontrol FIFA." Anda bisa memilih untuk keluar dari FIFA dan AFC, atau anda juga bisa memilih untuk berjalan sesuai dengan regulasi FIFA dan Indonesia bisa berkancah di Internasional, dan juga dapat mensejahterakan sepakbola anda. Saya sadar bahwa ada banyak yang kecewa karena kandidatnya tidak dapat dicalonkan. Tetapi jangan khawatir karena itu bukan akhir segalanya, karena larangan tersebut hanya berlaku untuk kongres tahun ini, empat tahun lagi mereka dapat dicalonkan."

Pernyataan perwakilan FIFA ini tidak membuat Kelompok 78 menjadi tenang. Bahkan selain menekan Agum Gumelar, Kelompok 78 pun sempat bersitegang dengan kelompok lainnya yang mengusung calon lainnya. Agum Gumelar pun akhirnya mengambil langkah tegas dengan menghentikan jalannya Kongres. Agum Gumelar sudah tidak bisa mengendalikan jalannya sidang yang sudah tidak kondusif. Dengan berakhirnya Kongres tanpa Ketua baru, hukuman FIFA sudah sangat dekat dan masyarakat pecinta sepakbola akan sanagat sedih.

Dan Soeratin pun pasti menangis di alam sana. Para elit PSSI mungkin tidak sadar dengan perjuangan Soeratin yang menjadikan PSSI sebagai alat persatuan dan perjuangan rakyat. Tolonglah berhenti memperjuangkan kepentingan kelompok. Kepentingan rakyat diatas segalanya. Sepak bola adalah jalan hidup bukan alat politik untuk mencapai tujuan kalian. Our Football is not your fucking political machine. (AMTP)

Minggu, 27 Maret 2011

Persib Tertahan

Persib Bandung harus menelan pil pahit malam ini keunggulan dua gol di babak pertama tidak bisa dipertahankan. Persipura yang menjadi lawannya berhasil menyamakan kedudukan melalui gol Zah Rahan dan Titus Bonai. Sebelumnya di babak pertama Persib berhasil unggul 2 gol melalui sundulan kepala Airlangga dan Herman Abanda. Di babak pertama Persib memegang kendali permainan dengan terus bermain menyerang. Bahkan di detik ke 46 Atep sudah mengancam dengan tendangan kerasnya sayang masih tipis disamping gawang Persipura. Lini tengah yang diisi duet Hariono dan Radovic mampu mendikte lini tengah Persipura.

Di babak kedua Persib melakukan kesalahan besar. Persib menurunkan tempo dan itu membuat Persipura mampu mengendalikan permainan. Praktis babak kedua dikuasai oleh Persipura. Banyak peluang-peluang berbahaya yang diciptakan para pemain Persipura dan saya yakin itu membuat jantung bobotoh berdegup kencang. Lewat skema serangan yang baik, mampu menembus jantung pertahanan Persib. Zah Rahan yang memiliki peluang langsung menghukum Persib dengan gol kedudukan pun berubah menjadi 2-1. Daniel Rukito langsung bereaksi dengan memasukkan Gonzalez dan menarik Airlangga untuk menambah daya gedor, tapi sayang Persib sudah terlanjur didikte oleh Persipura. Persib kesulitan mengembangkan permainan. Akibatnya pun fatal, di menit 89 Titus Bonai berhasil membobol gawang Persib dan merubah kedudukan menjadi 2-2. Sampai peluit panjang dibunyikan kedudukan tidak berubah.

Hasil ini membuat Persib belum bisa menang atas Persipura sejak 2004. Dua gol yang bersarang di gawang Persib menunjukan lini belakang masih menjadi titik lemah Persib di musim ini. Kehadiran Abanda memang menambah warna baru di lini belakang Persib tapi sayang masih belum bisa mendongkrak performa lini belakang secara keseluruhan. Danil dan Robby Darwis yang notabene mantan bek tangguh harus bekerja keras untuk memperbaiki kinerja lini belakang. Masih banyak sisa pertandingan untuk mendongkrak posisi di klasemen dan menjaga harga diri Persib sebagai tim besar di Indonesia.

Minggu, 13 Maret 2011

Away Day Karawang

AWAY DAY KARAWANG

Seperti biasa penyakit saya kambuh saat disuruh harus menulis, bingung harus memulai dari mana. Baiklah kita mulai saja dari kebingungan saya. Selain bingung harus memulai darimana, saya pun bingung harus memberi judul apa pada tulisan ini. Melihat permainan Persib yang terus berkembang, aksi bintang baru Matsunaga Shoei yang mempesona, atmosfir stadion yang sampai membludak kepinggir lapangan. Aslinya saya bingung, tapi yang pasti saat menulis tulisan ini lengan kiri saya masih terasa sakit akibat 5 pukulan pentungan Polisi.

Kejadian pemukulan ini merupakan yang pertama dalam hidup saya, dan saya pun tidak menyangka akan terjadi hal seperti itu. Sejak berangkat dari Jakarta bersama pecinta Persib lainnya jam 3 sore saya tidak punya firasat buruk tentang polisi. Kejadian pemukulan ini terjadi saat saya dan ribuan suporter lainnya akan memasuki stadion. Saat itu waktu sudah menunjukan hampir jam 6 tapi pintu masuk yang kecil itu tidak kunjung di buka ini menyebabkan banyak bobotoh yang marah dan mencoba mendobrak pintu tersebut. Keadaan saat itu sudah tak terkendalai saling dorong pun terjadi yang kasian sih anak-anak dan perempuan, banyak diantara mereka yang kesusahan bernafas dan akhirnya pingsan. Setelah berjuang sekuat tenaga akhirnya saya pun bisa masuk, nah disinilah kejadian itu terjadi. Polisi tersebut meminta tiket dan tiketpun saya kasih dengan senang hati tapi tiket yang harusnya di sobek ternyata hanya dikepal saja dan tidak disobek. Hal ini membuat saya marahkarena saya yakin tiket itu akan dijual lagi dengan spontan saya mengucapkan kata-kata yang saya akui itu tidak sopan, setelah saya naik tangga tiba-tiba polisi itu memukul saya dari belakang dengan pentungannya yang panjang, saya pun sempat melawan dengan menarik pentungan itu tapi pukulannya semakin membabi buta padahal temannya sudah coba menenangkannya. Saya pun disuruh naik cepat oleh bobotoh lainnya untuk menghindari pukulan yang lebih gila.

Sesampainya di tribun, gila penuh banget mau nyari tempat duduk aja susah. Dari belakang nyuruh kita duduk, tapi mau duduk gimana, keadaannya aja padet banget akhirnya jongkok enggak berdiri pun enggak. Tidak nyaman dengan kondisi seperti itu saya maksa untuk naik ke deretan tribun paling atas, dan akhirnya Kang Agus Cakung pentolan Viking Jabotabek memanggil dan memberikan sedikit tempat duduk walaupun pandangan ke lapangan terhalang oleh tembok tapi tak apalah. Kami pun berbincang-bincang membicarakan panpel pelita yang kurang profesional dalam menyelenggarakan pertandingan.

Sepuluh menit berselang akhirnya sang pujaan hati Persib turun ke lapangan pertandingan. Persib disambut dengan gegap gempita, bunyi mercon dan kembang api nampak meluncur dari tribun yang saya tempati tapi sayang ada satu mercon yang malah meluncur ke tengah lapangan dan percikannya mengenai salah seorang pemain Persib untung tidak sampai cedera. Tapi saya yakin itu murni ketidaksengajaan, dan itu jangan diperpanjang semua Bobotoh pasti mencintai Persib dan tidak mungkin akan melukai Persib.

Kick of pun dimulai saat jam di handphone menunjukan pukul 19.02. Daniel Rukito menurunkan Matsunaga Shoei dan Cristhian Gonzalez di lini depan. Persib mengawali pertandingan dengan penuh semangat. Sepuluh menit awal praktis dikuasai oleh Persib, umpan-umpan pendek yang dikombinasikan dengan umpan satu dua benar-benar menghibur kami yang terus menerus memberikan dukungan di tribun. Entah di menit ke berapa serangan balik cepat Persib menghukum Pelita dengan gol cantik dari Matsunaga. Kreator gol itu adalah gelandang petarung Hariono yang mendapat bola liar, dia langsung mengirimkan bola ke Matsunaga yang terlepas dari jebakan offside, dan dengan mudah Matsunaga mengubah skor menjadi 1-0. Sorak sorai bobotoh pun menggema di stadion milik pemerintah Karawang ini. Sebagian bobotoh di tribun timur yang dekat ke utara menyanyikan nama Matsunaga..Matsunaga...Matsunaga. Pemain yang satu ini memang tampil gila mungkin dia termotivasi dengan dukungan yang diberikan oleh bobotoh. Tapi sepertinya Matsunaga ingin memberikan hadiah ulang tahun untuk Persib yang pada tanggal 14 Maret bertambah umurnya menjadi 78.

Gol pemain asal Jepang ini mengangkat mental bertanding skuad Pangeran Biru. Persib menguasai jalannya pertandingan, tapi ada hal yang aneh pada pertandingan kemaren Gonzalez diganti di pertengahan babak pertama oleh Rahmat Affandi. Mungkin Daniel ingin lini depannya lebih hidup dan terus memberikan tekanan kepada Pelita. Pelita Jaya hanya sesekali melakukan serangan dan itu pun tidak ada yang begitu berbahaya. Kali ini Maman cukup sukses dalam meredam Safee Sali pemain Pelita. Sampai berakhirnya babak pertama Persib masih bisa mempertahankan keunggulannya atas tuan rumah. Tapi sayang di babak pertama pemain pelita bermain keras menjurus kasar, beruntung tidak ada pemain Persib yang sampai cedera.

Suasana panas di lapangan nampaknya menular ke tribun penonton, cacian dan makian dari tribun selatan dan timur menggema dan dikirimkan untuk suporter Pelita yang jumlahnya kurang dari 10% kapsitas Stadion Singaperbangsa. Suporter bayaran seperti suporter Pelita memang pantas dihina. Dari tribun timur nampak seorang bobotoh yang melambai-lambaikan uang kertas sebagai bentuk penghinaan terhadap suporter Pelita.

Siapa bilang Jawa Barat Pelita (A***g)

Jawa Barat milik kita semua

Yang bilang Jawa Barat Pelita (A***g)

Itu orang yang tidak sekolah

Lagu ini tak henti-hentinya dinyanyikan oleh sebagian bobotoh Persib. Atmosfir yang ditunjukan bobotoh sepertinya membuat nyali suporter Pelita menjadi ciut, mereka hanya duduk terdiam di bawah “ketiak” polisi.

Babak kedua pun dimulai, tapi Persib seperti telat panas. Permainan sedikit dikendalikan oleh tuan rumah Pelita. Pelita menjadi lebih getol melancarkan serangan ke lini pertahanan Persib. Serangan yang terus menerus akhirnya menghasilkan tendangan pinalti untuk Pelita setelah Maman yang menjatuhkan diri menyentuh bola di kotak terlarang. Saya tidak tahu siapa penendang pinalti tersebut, karena saat itu saya menutup mata tidak mau melihat gawang Persib terkoyak, tapi akhirnya Markus pun harus memungut bola dari gawangnya. Skor pun berubaha jadi 1-1

Kondisi itu membuat panas dan marah bobotoh Persib ditambah perayaan provokatif dari suporter Pelita. Saat itu bayang-bayang tragedi tahun lalu berkumpul di otak saya. Kalau sampai kalah Karawang bisa rusuh lagi, bukan karena tidak bisa menerima kekalahan tapi karena perlakuan wasit. Banyak keputusan wasit yang menguntungkan tuan rumah, dan tidak ada satupun pemain Pelita yang mendapat kartu merah padahal Matsunaga dan pemain lainnya terus dikasari oleh pemain Pelita.

Danil Rukito langsung bereaksi, dia memasukan Eka Ramdani menggantikan Isnan Ali. Masuknya Eka menambah daya gedor Persib menjadi lebih atraktif. Serangan demi serangan terus dilancarkan, Matsunaga seperti tak kenal lelah, dia terus berlari dan bertarung merebut bola. Lini tengah Persib yang dikomandoi pemain baru begitu disiplin, lini belakang bermain lugas untuk menghalau serangan balik Pelita. Gol yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga dari kepala Herman Abanda pemain yang baru didatangkan pada putaran kedua. Abanda menyundul bola hasil tendangan pojok Eka. Pemain Pelita mencoba menghalaunya tapi sayang bola sudah masuk ke gawang dan skor pun berubah menjadi 2-1 untuk keunggulan Persib. Abanda pun berlari ke arah tribun selatan untuk merayakan golnya dengan bobotoh Persib. Setelah gol itu hati saya dan puluhan ribu orang lainnya menjadi tenang. Keadaan panas di tribun penonton masih berlangsung, di tribun yang ditempati tuan rumah terjadi kericuhan, peonton yang ada di tribun berhamburan turun sepertinya mereka menghindari lemparan batu dari luar stadion. Ini mengingatkan saya tragedi di Tangerang, bedanya saat itu kami melawan walaupun jumlah kami sedikit.

Di lapangan pertangdingan Persib masih memegang kendali permainan setelah unggul praktis Persib hanya mempertahankan hasil. Persib hanya menyisakan Matsunaga di lini depan dan lebih fokus ke lini pertahanan. Para defensore Persib berhasil menjalankan tugasnya dengan baik dalam meredam serangan Pelita. Saat injury time suporter Pelita memeilih pulang terlebih dahulu. “Balik a***g suporter bayaran g****g” teriak seorang bobotoh di sampin saya.

Sampai peluit panjang dibunyikan Persib berhasil mempertahankan keunggulannya. Kemenangan ini disambut dengan kegembiraan dan suka cita. Seorang bobotoh yang kira-kira berusia 30an, nampak mengucapkan syukur kepada Tuhan dan dari sudut matanya saya tahu dia menangis dan pastinya tangis kebahagian. Bagi bapak itu, bagi kami Persib lebih dari sekedar sepak bola.

Sebelum meninggalkan lapangan para pemain memberikan salam dan rasa terima kasih kepada seluruh bobotoh. Seluruh pemain terlebih dahulu menghampiri tribun timur lalu bergeser ke tribun selatan. Persib mengan Bobotohpun senang. Begitulah akhir dari malam Minggu yang indah. Terima Kasih Persib Bandung. Terus judul tulisan ini apa??? Masa sih tanpa judul?? Awayday Karawang karena ini pertandingan away di Karawang, atau Goyang Karawang karena banyak bobotoh yang bergoyang merayakan kemenangan Persib? Guru dan Dosen saya pernah bilang judul itu harus menarik dan sepertinya Awayday Karawang lebih menarik bukan??

Persib till I die