Kapan kekisruhan ini akan berakhir?? Kami sudah lelah dengan semua ini. Apakah kalian tidak ingat dengan perjuangan Soeratin, Maladi, Saelan, dan para pendiri PSSI lainnya? Kenapa kalian selalu memaksakan kehendak dan kepentingan kelompok? Kami lelah mendengar kalian mengatasnamakan rakyat. Kalian itu orang pintar, apa karena kalian terlalu pintar sehingga keadaan menjadi seperti ini. Sebenarnya kalau mengikuti aturan yang ada, tidak akan seperti sekarang ini. Dan pertanyaan terakhir, apakah kalian siap dituntut oleh seluruh rakyat Indonesia??
Mungkin pertanyaan diatas ada dalam kepala para pecinta sepakbola dan mungkin masih banyak pertanyaan lainnya. Setelah lengsernya rezim Nurdin Halid yang berkuasa di PSSI selama dua periode ternyata kisruh di PSSI belum juga usai. Kalau dulu actor utama kekisruhan PSSI adalah Nurdin Halid kini actor utamanya Kelompok 78 dan Komite Normalisasi bentukan FIFA yang diketuai Agum Gumelar. Setelah kisruh PSSI episode Nurdin yang digulingkan oleh kelompok 78, FIFA membentuk Komite Normalisasi yang diberi mandate untuk menyelenggarakan Kongres PSSI dan memilih Ketua baru sesual dengan Statuta FIFA. Selain membentuk Komite Normalisasi FIFA pun melarang 4 calon terdahulu yakni, Nurdin Halid, Nirwan Darmawan Bakrie, George Toisutta, dan Arifin Panigoro untuk mencalonkan kembali menjadi Ketua Umum PSSI. FIFA mengambil keputusan ini karena melihat Kongres di Pekanbaru berakhir ricuh.
Keputusan ini kontan membuat Kelompok 78 yang mengusung George Toisutta dan Arifin Panigoro seperti kebakaran jenggot. Mereka begitu ngotot untuk mencalonkan kedua figure ini padahal FIFA sudah sangat jelas melarang mereka. Kelompok 78 menekan Agum Gumelar selaku Ketua Normalisasi untuk melobi FIFA supaya kedua figure ini bisa dicalonkan sebagai Ketua Umum PSSI. Agum Gumelar pun mengakomodir keingnina Kelompok 78 dengan menemui Presiden FIFA Seep Blater di Zurich Swiss pada tanggal 19 April.
Hasil dari pertemuan itu tetap melarang George Toisutta dan Arifin Panigoro. Jika PSSI melanggar aturan FIFA maka FIFA akan menjatuhkan sanksi bagi Indonesia. Indonesia akan dibekukan dari kancah sepakbola Internasional yang berada di bawah naungan FIFA. Ancaman yang sangat menyeramkan bagi pecinta sepakbola Indonesia karena Indonesia tidak bisa mengikuti Sea Games, Asian Games, Pra Piala Dunia, Pra Olimpiade, Liga Champion Asia, dan Piala AFC. Ancaman FIFA ini tidak membuat Kelompok 78 menciut. Mereka semakin menjadi-jadi dengan melaporkan FIFA ke Badan Arbitase Olahraga Internasional (CAS). Pengaduan mereka ditolak oleh CAS karena FIFA adalah badan tertinggi sepakbola dunia.
Kongres untuk pemilihan Ketua Umum PSSI periode 2011-2015 akhirnya bisa terselenggara sesuai jadwal yaitu tgl 20 Mei tapi sayang Kongres berakhir deadlock karena ulah Kelompok 78 yang terus mempertanyakan dilarangnya George Toisutta dan Arifin Panigoro. Setelah sesi kedua kongres dimulai hujan interupsi pun mewarnai jalannya kongres. Agenda sidang yang seharusnya memilih Ketua baru malah dibelokkan oleh kelompok 78 yang ingin meminta penjelasan dari perwakilan FIFA. Thierry Regenass akhirnya buka suara "Sebelumnya saya ingin menyatakan bahwa Sepp Blatter telah memberitahu saya bahwa dirinya ingin mendengar kabar baik darinya saat bertemu di Swiss. Sebenarnya saya adalah seorang pengamat yang tidak akan berbicara sama sekali, tetapi karena saya diminta maka saya akan menjelaskan sejelas-jelasnya," ujar Regenass. “FIFA telah melarang empat orang bukan hanya dua orang, dan salah satu esensi yang wajib dipegang oleh anggota FIFA adalah tidak boleh ada kegiatan yang berada di luar kontrol FIFA." Anda bisa memilih untuk keluar dari FIFA dan AFC, atau anda juga bisa memilih untuk berjalan sesuai dengan regulasi FIFA dan Indonesia bisa berkancah di Internasional, dan juga dapat mensejahterakan sepakbola anda. Saya sadar bahwa ada banyak yang kecewa karena kandidatnya tidak dapat dicalonkan. Tetapi jangan khawatir karena itu bukan akhir segalanya, karena larangan tersebut hanya berlaku untuk kongres tahun ini, empat tahun lagi mereka dapat dicalonkan."
Pernyataan perwakilan FIFA ini tidak membuat Kelompok 78 menjadi tenang. Bahkan selain menekan Agum Gumelar, Kelompok 78 pun sempat bersitegang dengan kelompok lainnya yang mengusung calon lainnya. Agum Gumelar pun akhirnya mengambil langkah tegas dengan menghentikan jalannya Kongres. Agum Gumelar sudah tidak bisa mengendalikan jalannya sidang yang sudah tidak kondusif. Dengan berakhirnya Kongres tanpa Ketua baru, hukuman FIFA sudah sangat dekat dan masyarakat pecinta sepakbola akan sanagat sedih.
Dan Soeratin pun pasti menangis di alam sana. Para elit PSSI mungkin tidak sadar dengan perjuangan Soeratin yang menjadikan PSSI sebagai alat persatuan dan perjuangan rakyat. Tolonglah berhenti memperjuangkan kepentingan kelompok. Kepentingan rakyat diatas segalanya. Sepak bola adalah jalan hidup bukan alat politik untuk mencapai tujuan kalian. Our Football is not your fucking political machine. (AMTP)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar